KEPANJEN - Ratusan seniman bantengan dari 33 kecamatan menyuguhkan penampilan terbaiknya, Minggu lalu (1/9). Mereka membawakan bantengan dengan cerita berlatar kawasan masing-masing. Bantengan Tajinan misalnya, berlatar Lereng Tengger. Kemudian bantengan Dau mengambil latar Lereng Kawi, dan bantengan Tirtoyudo berlatar Lereng Semeru.
Atraksi seniman bantengan tersebut membuat gelaran Kanjuruhan Bantengan Festival (KBF) semakin semarak. Ribuan penonton turut menikmati pertunjukan dari 33 kecamatan itu. Mereka memenuhi Jalan Ir. Soekarno di kawasan Jalan Lingkar Barat (Jalibar), Kepanjen.
“Bantengan yang ditampilkan memang banyak menceritakan legenda masing-masing daerah,” ujar Bupati Malang H M. Sanusi setelah membuka KBF.
Sebagai contoh, bantengan yang ditampilkan oleh kelompok Tri Putro Cempoko Sari, Desa Tambakasri, Kecamatan Tajinan. Bantengan tersebut menceritakan legenda asal-usul kesenian bantengan itu. Yakni pada masa lampau, di Lereng Tengger, tepatnya di Desa Tambakasri Tajinan, selalu terjadi kegaduhan setiap hari. Kegaduhan oleh sekelompok banteng dan harimau itu membuat para kera cemas. Hingga akhirnya, datang Ki Suro Bleduk untuk melerai ketiga kelompok tersebut. (yun/dan)
Editor : Mahmudan