KEPANJEN – Setelah Dimas Kanjeng di Probolinggo, kini muncul kejahatan serupa di Malang Raya. Pelakunya adalah Rinang Pujiono. Lansia asal asal Lumajang itu mengelabui Suroto, warga Banjarejo, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang.
Modus yang dipakai Pujiono untuk menipu korban terinspirasi dari Dimas Kanjeng. Yakni menyaru sebagai dukun pengganda uang. Hal itu terungkap dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen, kemarin (5/9).
Dalam sidang pemeriksaan saksi, jaksa penuntut umum (JPU) menghadirkan tiga saksi. Yakni korban Suroto dan istrinya, Insiyah. Sedangkan satu saksi lagi adalah Fariz Wildan, anggota Unit Reskrim Polsek Pagelaran
Di hadapan majelis hakim, Suroto menceritakan awal mula berkenalan dengan terdakwa Pujiono. Dia pertama kali bertemu terdakwa pada 24 Mei 2024 pukul 19.30 di Makam Mbah Suko Arum, Pagelaran.
Kala itu, Suroto langsung ditepuk pundaknya oleh terdakwa. “Dia bilang ke saya, katanya saya ini orang yang dia tunggu. Untuk ditolong,” terang dia.
Kala itu terdakwa memperkenalkan diri sebagai Mahdi Hidayatullah, dan mengklaim dirinya sebagai Wali Allah. Terdakwa juga mengaku bisa mendatangkan uang secara gaib. Besarannya antara Rp 100 juta sampai Rp 1 miliar. Karena tertarik, Suroto memberikan uang Rp 1,5 juta untuk permulaan. Dia sudah tidak mengingat berapa kali menyetorkan uang kepada terdakwa. Tahu-tahu dia sudah keluar Rp 27,3 juta. Besaran setiap penyetoran bervariasi, mulai Rp 72 ribu sampai Rp 4 juta.
Demi mendapatkan uang lebih, korban bersedia menaruh koper dalam ruangan khusus. Kalung perhiasan istrinya juga diserahkan. Untuk meyakinkan Suroto dan istrinya, Pujiono juga sempat menunjukkan ‘kesaktiannya’. Yaitu memunculkan uang dari tangan. “Pernah di ruang tamu rumah, tahu-tahu keluar Rp 100 ribu dari tangannya. Juga di depan Bank BRI Gondanglegi tahu-tahu keluar Rp 1 juta,” papar dia.
Di sela-sela memberikan uang tersebut, Pujiono memberikan benda-benda seperti koper dan batu akik. Ada pula jaket hitam dan minyak wangi. “Di batu akik dia itu kata abah (terdakwa) ada penunggunya. Setiap Jumat pahing dan Kliwon harus diberi makan dupa yang dibakar,” ucap dia. Tapi ternyata semuanya hanya bohong. Kesaktian itu hanya tipu-tipu belaka.
Di sisi lain, Pujiono mengaku bahwa ide memperdaya Suroto muncul karena ketika berpapasan di makam, Suroto terlihat sedih. Dalam perbincangannya kala itu diketahui bahwa Suroto memiliki banyak utang.
Ditanya terkait uang keluar tiba-tiba dari tangannya, Pujiono membongkar triknya. “Saya pakai sarung tangan tebal yang sobek, lalu uang Rp 100 ribu itu diselipkan saja,” ucap dia. ”Tapi kalau pakai koper itu saya meniru Dimas Kanjeng,” ujar Pujiono.(biy/dan)
Editor : Mahmudan