Dr Ahmad Dzulfikar Nurrahman tergolong ASN yang getol menyuarakan perubahan di sektor lingkungan. Sejak menjabat di dinas lingkungan hidup (DLH), dia terlibat aktif dalam penanganan lingkungan dan berkolaborasi dengan entitas global. Salah satunya dengan Kedutaan besar Denmark.
EMISI karbon dan polusi udara semakin meningkat. Tidak hanya di Indonesia, tapi berbagai belahan dunia. Karena itu, diperlukan green transition (transisi hijau) untuk mengatasinya. Transisi hijau juga dianggap sebagai solusi untuk mengatasi perubahan iklim dan degradasi lingkungan yang mengancam eksistensi manusia.
Pentingnya transisi hijau tersebut membuat Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Kabupaten Malang Ahmad Dzulfikar Nurrahman berpartisipasi dalam green transition course (kursus transisi hijau) di Denmark. Kursus tersebut diberikan kepada stakeholder kunci dalam transisi hijau. ”Salah satu aspek penilaian untuk bisa diterima di course ini adalah seberapa kuat posisi dan peran kita untuk membawa perubahan dalam transisi hijau,” ujar Afi, sapaan akrabnya.
Pejabat eselon III A Pemkab Malang itu menjelaskan, transisi hijau merupakan upaya dalam menghadapi triple planetary crisis. Yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi. Dalam kursus tersebut, dia melanjutkan, akan diberikan pemahaman secara rinci terkait transisi hijau. Mulai dari instrumen analisis, teknologi, dan pengetahuan yang harus dikuasai.
Serta peralihan dari pergerakan ekonomi konvensional menuju ekonomi hijau dengan mengedepankan konsep circular economy (ekonomi sirkural). Yakni model ekonomi yang bertujuan mempertahankan nilai produk, bahan, dan sumber daya perekonomian selama mungkin. Dengan demikian, mampu meminimalkan kerusakan sosial dan lingkungan akibat pendekatan ekonomi linear.
Selain itu, juga akan disampaikan implementasi transisi hijau yang sudah dilakukan Denmark. Sebagai salah satu negara maju, Denmark memang sudah menerapkan transisi hijau di semua sektor. Bahkan pemerintah setempat sangat mempromosikan budaya bersepeda dan penggunaan public transport. Tentunya juga didukung infrastruktur yang memadai.
”Di Kabupaten Malang masih belum menyentuh aspek-aspek green transition secara masif,” ucap pria berusia 37 tahun itu.
Sebab, untuk penerapan teknologi yang lebih maju memerlukan biaya besar serta perubahan perilaku dan budaya. Sehingga untuk menuju green transition di Kabupaten Malang, bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Seperti gerakan hemat energi, mengurangi emisi karbon, memilah sampah, dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Hal-hal tersebut dapat diterapkan di tingkat rumah tangga.
”Satu hal yang nanti akan diimplementasikan setelah course ini yakni bekerja sama dengan Danida Fellowship Centre (Denmark) untuk penerapan eco-office di lingkungan kerja Pemkab Malang,” ucap alumni program doktor ilmu lingkungan Universitas Brawijaya (UB) tersebut.
Dalam 6 bulan kedepan, Eco-office tersebut harapannya dapat terealisasi sesuai Action Plan yang sudah dibuat dan akan menjadi contoh upaya transisi hijau serta kampanye terkait "sustainable practices" khususnya di lingkungan kerja Pemerintah Kabupaten Malang. (yun/dan)
Editor : Mahmudan