PONCOKUSUMO – Lahan pertanian di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo sangat cocok untuk ditanami kentang. Namun belakangan produktivitasnya merosot lantaran bibit yang ditanam kurang bagus. Karena itu, para petani kentang di desa tersebut membutuhkan bibit yang unggul.
Berdasar data Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang, lahan pertanian kentang di Ngadas berkisar 350 hektare. Para petani tidak mengalami kesulitan dalam memasarkan hasil pertanian mereka. “Justru kesulitan benih atau bibit kentang,” ujar Kepala DTPHP Kabupaten Malang Avicenna Sani Putera kemarin.
Dia mengatakan, bibit yang ada saat ini sudah turunan kesekian sehingga produktivitas tak maksimal. Satu hektare lahan rata-rata hanya menghasilkan 7-8 ton kentang. Awal 2023 lalu sudah dilakukan pengujian dengan bibit kentang Granola G2. Hasilnya meningkat. Mereka mencoba bibit itu pada lahan seluas 1,5 hektare. “Satu hektare bisa menghasilkan 30 ton kentang,” kata dia.
Berangkat dari hal itu, dia melanjutkan, pihaknya bakal mengembangkan bibit tersebut agar bisa diperbanyak dan pakai oleh petani. Salah satu caranya dengan membuat program kolaborasi pembangunan ekosistem pertanian berbasis unggulan lokal disingkat "Kembang Tani Bersiul". Pihaknya akan menggandeng berbagai pihak seperti akademisi dan stake holder sehingga tercipta ekosistem hulu hilir untuk komoditas kentang. ”Kita dorong lahan 350 hektare untuk memakai bibit granola G2,” kata pejabat eselon II B Pemkab Malang itu. (iza/dan)
Editor : Mahmudan