KEPANJEN - Tebu menjadi salah satu komoditas unggulan di Kabupaten Malang.
Luas lahannya pun mencapai sekitar 44 ribu hektare.
Itu sekitar 27,28 persen dari total lahan pertanian di Kabupaten Malang yang mencapai sekitar 161 ribu hektare.
Tapi belakangan produksinya menurun, meski tak signifikan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malang mengungkap, produksi tebu pada 2022 mencapai 4,09 juta ton.
Setahun kemudian turun menjadi 4,01 juta ton.
“Masyarakat itu tidak mau membongkar lahannya. Setelah dipanen, ditumbuhkan dan dipelihara lagi (rawat ratun),” kata Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang Avicena Medisica Sani Putera.
Dia menjelaskan, rawat ratun hanya efektif dilakukan selama 5-6 tahun.
Lebih dari jangka waktu tersebut, dia mengatakan, kualitas produksi tanaman tebu akan menurun.
Sedangkan, menurutnya, masyarakat menerapkan rawat ratun sampai 10 tahun.
Karena itu terjadi penurunan produksi.
“Kalau perbaikan bisa dilakukan, produksi bisa meningkat sampai 15-20 persen,” ucap pejabat eselon II B Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang itu.
Dengan demikian, jika dilakukan penggantian tanaman setiap 5-6 tahun, maka produksi tebu bisa sampai 4,6 juta sampai 4,8 juta ton setiap tahunnya.
Tapi, menurut Avi, produksi tebu dari Kabupaten Malang masih mencukupi kebutuhan gula di Jawa Timur.
Untuk memaksimalkan produksi, Kabupaten Malang mengandalkan varietas baru.
Yakni tebu Pringu yang sentra pengembangannya di Kecamatan Bululawang dan beberapa kecamatan lain.
Varietas tersebut sudah diresmikan sejak November 2023 lalu dan saat ini sedang dikembangkan.
Produksinya diperkirakan mencapai 1.000 kuintal per hektare atau 100 ton per hektare.
Rendemen varietas tersebut juga terhitung bagus.
Yakni mencapai 12,15 persen.
Artinya, dari 100 kilogram tebu dapat menghasilkan 12,15 kilogram gula. (yun/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana