KEPANJEN – Beberapa hari terakhir, cuaca di Kabupaten Malang tidak menentu. Perubahannya cukup ekstrem. Pagi hingga siang hari terik, kemudian sore berubah menjadi mendung, bahkan hujan deras. Anomali cuaca seperti itu diperkirakan akan berlangsung hingga akhir Oktober mendatang.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang Rahmad Ichwanul Muslimin memaparkan, anomali cuaca terjadi karena ada fenomena alam yang hampir bersamaan. Yakni la nina dan el nino. “Kami memprediksi, cuaca ekstrem itu kemungkinan sampai akhir Oktober depan,” ujar Ichwan kemarin (27/9).
Seperti yang diketahui, El Nino merupakan fenomena ketika suhu permukaan laut di Samudera Pasifik meningkat di atas kondisi normal. Sehingga El Nino mengakibatkan kekeringan. Sebaliknya, La Nina terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudera Pasifik menurun di bawah kondisi normal. Sehingga pertumbuhan awan berkurang dan curah hujan meningkat.
Atas kondisi tersebut, BPBD membuat edaran yang disebar ke desa-desa. Edaran tersebut terkait antisipasi bencana yang bisa terjadi secara mendadak. Seperti angin kencang dan pohon tumbang. ”Kami juga selalu membagikan kondisi perkiraan cuaca untuk tiga hari ke depan,” kata pria yang merangkap Kepala Bagian (Kabag) Kerja Sama Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Malang itu.
Dengan demikian, masyarakat diharapkan lebih berhati-hati ketika bepergian. Dia juga mengimbau supaya masyarakat selalu sedia payung maupun jas hujan. Sebab, akibat adanya anomali cuaca, antar wilayah dapat memiliki perbedaan kondisi. Misalnya di Kepanjen hujan deras, sementara Sumbermanjing Wetan tidak hujan. “Karena itu, kami belum bisa memperkirakan lokasi yang menjadi prioritas kewaspadaan,” kata mantan Camat Kepanjen itu.
Tapi berdasar kondisi 2023 lalu, terdapat 12 kecamatan yang terancam diterjang angin kencang. Empat kecamatan di antaranya masuk kategori paling rawan. Yakni Pakis, Jabung, Singosari, dan Karangploso. Sebab, letak geografis wilayah tersebut terdapat di dataran rendah dan dikelilingi oleh gunung.
Meski begitu, dia mengatakan, kecamatan lain tetap harus waspada. Seperti di Kecamatan Pakisaji. Dalam tiga hari, 23-25 September lalu, 28 rumah mengalami kerusakan akibat diterjang angin kencang. Rinciannya, 7 rumah di Desa Jatisari, 12 rumah di Desa Genangan, enam rumah di Desa Kendalpayak, dan tiga rumah di Desa Sutojayan. Rata-rata kerusakan pada atap. Kerugian diperkirakan mencapai mencapai Rp 30 juta.(yun/iza/dan).
Editor : Mahmudan