KEPANJEN – Demi mengenang korban tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022 lalu, kontraktor PT Waskita tidak mengubah pintu 13. Selain itu, pembangunan monumen tragedi Kanjuruhan juga akan dibuat segaris dengan museum.
Project Manager Revitalisasi Stadion Kanjuruhan Vino Teguh Pramudia mengatakan, pihaknya tidak menyentuh gate tersebut dalam renovasi. Keputusan tersebut diambil atas permintaan keluarga korban tragedi Kanjuruhan. “Kami pertahankan orisinalitasnya, termasuk tangga. Kami hanya melakukan memperkuat struktur di titik yang sudah disepakati di lokasi,” terang dia.
Dia juga menyiapkan area di bawah tribun untuk dijadikan museum. Nantinya museum tersebut dikelola oleh yayasan keluarga korban tragedi Kanjuruhan. Namun diharapkan yayasan terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang.
Tidak hanya museum, PT Waskita juga akan menyiapkan area monumen. Letaknya sekitar 50 meter sebelah barat pintu 13. Tepat di lokasi relokasi pedagang eks toko tribun stadion. “Kami buat segaris. Mengikuti arah gol terakhir pertandingan waktu itu, yang kebetulan arahnya ke pintu 13,” ungkap Vino.
Dampak pembangunan monumen itu adalah menggeser 16 bedak pedagang ke arah barat kawasan relokasi. Pekerjaan terkini ialah pelepasan paving dan pemasangan garis pembatas konstruksi.
Disinggung mengenai desain monumen, Vino belum bisa membeberkan. Sebab hingga kini rancangan belum fixed. Masih harus melalui kesepakatan dengan polisi, keluarga korban dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen-PUPR). Namun secara garis besar ada tiga pilar pipih menjulang bertulis nama-nama korban tragedi Kanjuruhan. “Ada diorama juga soal bagaimana tragedi terjadi. Serta pernyataan kenapa monumen dibuat,” ucap Vino. Kemudian ada surai berbentuk singa yang dikelilingi kolam. (biy/dan)
Editor : Mahmudan