Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Penderita Bibir Sumbing di Kabupaten Malang Didominasi Keluarga Petani, Begini Temuan RSUD Kanjuruhan

Mahmudan • Senin, 30 September 2024 | 23:00 WIB
Plt Direktur RSUD Kanjuruhan dr Bobi Pranowo SpEM KECE MBiomed (kiri)
Plt Direktur RSUD Kanjuruhan dr Bobi Pranowo SpEM KECE MBiomed (kiri)

KEPANJEN – Kelainan bibir sumbing patut diwaspadai.

Terutama bagi Anda yang berlatar belakang keluarga petani.

Sebab, di Kabupaten Malang ada sekitar 648 penderita bibir sumbing.

Mayoritas terlahir dari keluarga petani.

Data RSUD Kanjuruhan, tahun 2024 ada 0,02 persen penderita bibir sumbing. 

Karena warga Kabupaten Malang mencapai 2,7 juta jiwa, maka sekitar 648 penderita mengalami kelainan bibir sumbing.

Usianya bervariasi, mulai bayi hingga dewasa Untuk diketahui, bibir sumbing adalah kelainan akibat penyatuan jaringan bibir yang tidak sempurna pada masa kehamilan.

Menurut berbagai penelitian, kelainan bibir sumbing paling banyak ditemui di lingkup keluarga petani.

Sebab mereka memanfaatkan pestisida ketika bertani, tetapi tidak menggunakan sarung tangan.

“Sehingga terjadi mutasi sel pada manusia. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab bibir sumbing,” ujar Plt Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kanjuruhan dr Bobi Prabowo SpEM KEC MBiomed.

Selain itu, dia mengatakan, penderita bibir sumbing juga mayoritas diderita anak dari keluarga wiraswasta dengan perekonomian menengah ke bawah.

Biasanya mereka kurang edukasi terkait pentingnya nutrisi, khususnya asam folat.

“Konsumsi asam folat yang rendah juga menyebabkan bibir sumbing,” lanjut Wakil Direktur RSUD Kanjuruhan tersebut.

Bibir sumbing juga dapat terjadi karena keturunan atau faktor genetik.

Unsur keturunan tersebut, Bobi mengatakan, memang tidak bisa dihindari.

Kecuali dengan konsumsi nutrisi asam folat dan memperhatikan gizi seimbang.

Karena itu, dia melanjutkan, ibu hamil dianjurkan rutin pergi ke posyandu.

Tujuannya agar bayi di dalam kandungannya menerima nutrisi dan vitamin tambahan sesuai kebutuhan.

Sementara dari faktor lingkungan, bibir sumbing dapat terjadi jika bayi di dalam kandungan terkontaminasi asap rokok dan alkohol secara berlebihan.

Termasuk unsur timbal dalam makanan.

Sehingga, untuk menurunkan angka bibir sumbing, pihaknya akan melakukan pendekatan kewilayahan.

”Kami petakan kecamatan mana yang paling tinggi sekaligus berasal dari kalangan mana. Misalnya dari petani paling banyak, nanti kami sampaikan ke akademisi untuk menganjurkan pestisida yang aman,” pungkasnya. (yun/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#petani #Penderita Bibir Sumbing #Didominasi #Kabupaten Malang #RSUD Kanjuruhan #keluarga