Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Berjuang Merawat Ingatan dan Mencari Keadilan Tragedi Kanjuruhan

Galih R Prasetyo • Kamis, 3 Oktober 2024 | 00:00 WIB
TERUS BERJUANG: Arek Malang dan keluarga korban tragedi Kanjuruhan menggelar konvoi memperingati dua tahun tragedi Kanjuruhan, kemarin.
TERUS BERJUANG: Arek Malang dan keluarga korban tragedi Kanjuruhan menggelar konvoi memperingati dua tahun tragedi Kanjuruhan, kemarin.

KEPANJEN – Tragedi Kanjuruhan belum tuntas. Para korban peristiwa pahit 1 Oktober 2022 itu merasa belum mendapatkan keadilan.

Karena itu, proses hukum tragedi Kanjuruhan diharapkan terus berjalan.

Sebelumnya, usaha menuntut keadilan hanya sampai laporan model b. Lalu, membuat laporan ke Bareskrim Polri, Komnas HAM, sampai audiensi dengan Komisi 10 DPR RI.

”Sebagai keluarga korban, saya begitu kecewa dengan putusan di Mahkamah Agung 2023 lalu,” tutur keluarga korban Kartini kepada Radar Malang Senin lalu (30/9).

Menurutnya, hukuman untuk lima terdakwa tidak sebanding dengan kejahatan yang telah diperbuat.

Di mana telah membuat 135 orang kehilangan nyawa. Meski sudah dua tahun berjuang tanpa hasil, namun perempuan 53 tahun itu tidak menyerah untuk menuntut keadilan.

Dia berharap upaya hukum harus terus berjalan.

Lalu para pelaku bisa dihukum seadiladilnya. ”Saya minta tolong kepada semua warga Indonesia tetap berjuang untuk keadilan para korban tragedi Kanjuruhan,” kata dia.

Di tempat terpisah, Miftahudin Ramli alias Ebes Midun kemarin sampai di Monumen Sakti Lubang Buaya, Jakarta Timur pukul 12.00 WIB.

Di sana dia berdoa supaya momentum Kesaktian Pancasila bisa membawa keadilan kepada keluarga korban tragedi Kanjuruhan.

Rencananya, seusai itu dia akan berkunjung ke Gelora Bung Karno sampai kantor PSIS. “Jangan sampai terjadi tragedi Kanjuruhan lagi. Di manapun,” ungkapnya.

Menurutnya, derita dari peristiwa kelam itu sangat dalam. Dia melihat sampai saat ini keluarga yang ditinggalkan masih terus berduka.

Midun tidak peduli semisal, ada yang bilang tragedi Kanjuruhan sudah usai.

Baginya, perjuangan harus terus dilakukan. Dirinya mempersilahkan mereka yang ingin melakukan gerakan sosial seperti dirinya dengan gowes atau bagaimana caranya.

Selama gowes dari Malang ke Jakarta, pria berdomisili di Batu tidak sekadar merawat ingatan tragedi Kanjuruhan.

Lebih jauh dia juga berusaha menebarkan pesan damai di antara suporter.

”Semoga semua tidak lupa akar kejadian tragedi Kanjuruhan. Semua harus merawat ingatan dan menolak lupa,” paparnya.

Selama menyampaikan pesan itu, dia kerap menggelar diskusi dengan elemen suporter sampai pencinta bola.

Kegiatan dibuat gayeng dan kekeluargaan.

Sedangkan Koordinator Presidium Aremania Satu Ali Rifki menjelaskan, pihaknya terus merawat ingatan dengan membersamai korban.

Kemarin, dirinya berkunjung ke Sidoarjo untuk mendatangi korban luka akibat peristiwa kelam 1 Oktober 2022 Vicky. ”Kami di sana memberi donasi dan mewujudkan keinginan Vicky yang ingin punya official jersey Aremania,” paparnya.

Menurutnya kegiatan doa bersama bakal menjadi agenda rutin setiap 1 Oktober.

Selain mengenang, momentum tersebut menjadi bagian introspeksi diri. Artinya semua harus belajar dari peristiwa tersebut supaya tidak berulang lagi.

”Setiap pertandingan Arema, kami (presidum Aremania Satu, red) juga menyempatkan waktu kirim al-fatihah untuk korban,” ucapnya.

Dia yang saat kejadian berada di Stadion Kanjuruhan merasakan betul bagaimana duka yang mendalam kepada mereka yang ditinggalkan.

Dia bercerita bersama temanteman Aremania sempat melakukan evakuasi kepada korban berada di area ruang ganti pemain.

Di bawa ke lapangan supaya mendapat udara lebih bebas. Lalu berkeliling memberikan donasi pasca-tragedi. (tio/gp)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#merawat #tragedi kanjuruahan #ingatan #keadilan #mencari #Berjuang