DONOMULYO - Kekeringan yang terjadi tahun ini lebih parah ketimbang tahun lalu.
Itu terlihat dari jumlah desa yang terdampak (selengkapnya baca grafis).
Juga munculnya fenomena baru berupa surutnya air sungai di Desa Tulungrejo, Kecamatan Donomulyo.
Fenomena itu tak pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Hingga Oktober tahun ini, total ada 10 desa yang terdampak kekeringan.
Yakni Desa Sumberagung, Sitiarjo, Kedungbanteng, Ringinsari, Harjokuncaran, Sumberoto, Menteraman, Tulungrejo, Donomulyo, dan Putukrejo.
Jumlah tersebut lebih banyak dibanding periode yang sama tahun 2023 lalu.
Saat itu hanya ada enam desa yang terdampak kekeringan.
Di antara desa yang terdampak tahun ini, Desa Tulungrejo mengalami kondisi paling parah.
Sebab, ada satu sungai di sana yang surut.
Sumber Umbulan saja yang masih mengalir.
Sumber itu terletak di dalam gua.
Tepatnya di hulu sungai.
Air dari sumber itu kini menjadi andalan ratusan kepala keluarga (KK).
Warga mengandalkan tandon dengan daya tampung sekitar seribu liter.
Secara berkala, tandon tersebut diangkut menggunakan pikap.
”Kurang lebih ada sekitar 100 kubik (100 ribu liter) yang kami distribusikan ke masyarakat setiap hari nya,” ujar Kepala Desa Tulungrejo Nuryadi kemarin (9/10).
Air tersebut didistribusikan ke 857 KK. Dua pikap yang mengangkutnya berasal dari pemerintah desa.
KEKERINGAN DALAM 2 TAHUN TERAKHIR
- Oktober 2023, ada 6 desa yang mengalami kekeringan.
- November 2023, bertambah menjadi 17 desa yang mengalami kekeringan.
- Oktober 2024, ada 10 desa yang mengalami kekeringan.
- Selalu ada desa yang terdampak kekeringan di Kabupaten Malang.
- Tahun ini, ada kejadian surutnya air sungai di Desa Tulungrejo, Kecamatan Donomulyo.
- Fenomena itu masih dikaji pemkab.
Juga ada tambahan satu truk tangki bantuan dari BPBD.
Plt Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Malang Ichwanul Muslimin mengakui bahwa surutnya sungai di Desa Tulungrejo baru terjadi pada 2024 ini.
”Kami tetap upayakan untuk pengadaan air bersih sebagai bantuan,” kata dia.
Plt Bupati Malang Didik Gatot Subroto menambahkan, pihaknya bakal melakukan kajian khusus terhadap fenomena itu.
Dinas Pekerjaan Umum dan Sumber Daya Air (DPUSDA) sudah mendapat instruksi untuk melakukannya.
Mereka bakal bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR).
Juga berkolaborasi dengan Teknik Pengairan Universitas Brawijaya untuk mencari penyebab surutnya Sumber Umbulan.
”Karena ini juga pengaruh siklus cuaca, kami akan menunggu sampai akhir Oktober,” ucapnya.
Sambil menunggu, pemkab akan terus melakukan droping air bersih.
Ketika sampai akhir Oktober belum ada perkembangan, pemkab akan mencarikan solusi berdasar kajian teknis.
”Mungkin nanti bisa dilakukan dengan membuat Dam. Tetapi, harus melakukan kajian teknis terlebih dahulu, apakah merugikan atau tidak,” pungkasnya.
Sementara itu, saat ini juga sedang terjadi anomali cuaca di Kabupaten Malang.
Penyebabnya yakni fenomena alam yang hampir bersamaan.
Yakni La Nina dan El Nino.
El Nino yakni fenomena ketika suhu permukaan laut di Samudera Pasifik meningkat di atas kondisi normal. Sehingga, El Nino menyebabkan kekeringan.
Sebaliknya, La Nina terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudera Pasifik menurun di bawah kondisi normal. Sehingga, pertumbuhan awan berkurang dan curah hujan meningkat.
Karena fenomena tersebut, terdapat ketimpangan cuaca.
Sebagai contoh, ketika di Kecamatan Kepanjen sudah beberapa kali diguyur hujan deras, di wilayah bagian utara tidak sama sekali.
Bahkan di Malang selatan belum pernah hujan sama sekali dalam dua bulan terakhir. (yun/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana