Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sungai Kering, Petani Gagal Tanam Padi di Kabupaten Malang

Mahmudan • Sabtu, 12 Oktober 2024 | 02:45 WIB
KRISIS AIR: Sebagian warga mengoperasikan diesel untuk mengambil air di Sumber Umbul Sengkaring, Desa Tulungrejo, Kecamatan Donomulyo, rabu (9/10). INDAH MEI YUNITA/RADAR KANJURUHAN
KRISIS AIR: Sebagian warga mengoperasikan diesel untuk mengambil air di Sumber Umbul Sengkaring, Desa Tulungrejo, Kecamatan Donomulyo, rabu (9/10). INDAH MEI YUNITA/RADAR KANJURUHAN

Imbas Kekeringan di Donomulyo dan Sumawe

DONOMULYO - Kekeringan di Kabupaten Malang terus meluas. Dampaknya juga semakin terasa.

Setelah desa-desa mengalami krisis air bersih dan bergiliran meminta dropping air, kini sungai juga mengering. Sehingga para petani tidak bisa menanam padi.

Kegagalan petani menanam padi terjadi di Dusun Sengkaring, Desa Tulungrejo, Kecamatan Donomulyo.

Aliran sungai yang biasanya dimanfaatkan untuk irigasi persawahan, kini sudah tidak ada.

Dampak Kekeringan di Malang Selatan

Hanya tersisa air sumber di dalam gua yang dimanfaatkan untuk konsumsi dan kebutuhan sehari hari masyarakat Kepala Desa (Kades) Tulungrejo Nuryadi menjelaskan, sungai tersebut sebagai satu-satunya sumber pengairan bagi petani di Desa Tulungrejo.

Karena kering, dia mengatakan, masyarakat tidak bisa menanam padi untuk sementara.

“Kalau yang baru tanam, kondisinya ya kering dan mati, karena mereka tidak bisa mengambil sisa-sisa air di sini. Kalau yang dekat sungai biasanya ada air yang bisa diambil,” ucap Nuryadi, Rabu lalu (9/10).

Nuryadi menyebutkan, musim tanam di Desa Tulungrejo biasanya sampai tiga kali dalam setahun.

Padahal, musim tanam di Kabupaten Malang umumnya hanya dua kali.

Artinya, sebelum terjadi kekeringan, kondisi pengairan di desa tersebut sangat baik.

“Makanya, masyarakat juga shock dengan kejadian ini (kekeringan). Ini juga baru pertama kali terjadi. Sebelumnya, walaupun musim kemarau panjang, sungai tidak pernah kering,” kata dia.

Lahan sawah padi di desa tersebut cukup luas. Dari sekitar 1.600 hektare, 245 hektare di antaranya berupa lahan baku sawah padi.

Untuk sementara, lahan tersebut menghentikan proses produksi.

Sebab, air yang bisa diambil dari sumber di dalam gua itu hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari hari warga 857 KK.

Setiap hari, dia mengatakan, mereka mengambil 1.000 liter air menggunakan galon yang diangkut pikap.

Ada dua pikap dari pemerintah yang disiapkan untuk mengangkut galon.

Ditambah truk tangki berukuran 5.000 liter dari BPBD Kabupaten Malang.

“Total ada 100 kubik (100 ribu liter) lebih yang diambil untuk kebutuhan masyarakat,” kata dia.

Meski begitu, volume air di sumber tidak berkurang dan juga tidak bertambah.

Artinya, kata Nuryadi, debit air masih cukup untuk kebutuhan masyarakat.

Hanya saja, untuk memenuhi kebutuhan pertanian masih harus ditunda sementara.

Sebelumnya, beberapa desa mengalami kritis air bersih. Lokasinya tersebar di dua kecamatan, yakni Sumbermanjing Wetan (Sumawe) dan Donomulyo.

Mereka sudah mendapatkan air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang.

Terhitung sejak awal September hingga awal Oktober ini, Pemkab Malang sudah mendistribusikan sekitar satu juta liter air bersih. (yun/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#kekeringan #Petani Padi #krisis air bersih #Kabupaten Malang #Sungai kering