Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Petani Pakisaji Panen Lima Kali Lipat setelah Pakai IoT

Mahmudan • Sabtu, 12 Oktober 2024 | 16:10 WIB

 

 

INOVATIF: Bambang Tri Winarko, petani asal Karangpandan, Kecamatan Pakisaji memeriksa kondisi melon melalui metode Internet of Things (IoT) yang terhubung smartphone.
INOVATIF: Bambang Tri Winarko, petani asal Karangpandan, Kecamatan Pakisaji memeriksa kondisi melon melalui metode Internet of Things (IoT) yang terhubung smartphone.

 

 

PAKISAJI – Harapan baru bagi petani. Jika ingin produksinya meningkat dan masa panen lebih cepat, ada baiknya menggunakan teknologi pertanian. Hal itu sudah terapkan oleh beberapa petani melon di Desa Karangpandang, Kecamatan Pakisaji.

Dengan menggunakan metode Internet of Things (IoT) seperti smart greenhouse, petani bisa panen hingga lima kali lipat dibanding pertanian konvensional. Sebab, smart greenhouse mampu mendukung sensor lingkungan sekaligus terhubung dengan internet untuk memudahkan perawatan. Seperti yang diterapkan salah satu kelompok tani di Desa Karangpandan, Kecamatan Pakisaji.

Anggota Kelompok Tani Sari Bumi Bambang Tri Winarko menjelaskan, metode pertanian IoT sangat menguntungkan. “Dengan greenhouse berukuran 10 meter kali 50 meter, kami sudah panen lima kali. Empat kali dengan konvensional dan satu kali dengan IoT. Hasil panen dengan IoT bisa meningkat lima kali lipat dibanding konvensional,” ujar Bambang kemarin (11/10).

Di dalam greenhouse tersebut dia menanam melon jenis sakata. Melon tersebut berwarna hijau dari luar. Namun setelah dipecah, isi buahnya berwarna oranye.

Bambang menyebutkan, melon ditanam di sekitar 80 polybag dengan sistem drip. “Ini sudah kami setting jadwal pemupukan dan penyiraman tanpa harus datang ke kebun. Sehingga lebih efektif,” lanjut Bambang.

Alat-alat untuk pengaturan tersebut sudah terhubung melalui IoT. Sehingga petani tidak perlu menghabiskan banyak waktu di dalam greenhouse. ”Hanya perlu memeriksa setidaknya dua kali. Pagi sekitar pukul 06.00-08.00 dan sore sekitar pukul 16.00-18.00,” terangnya.

Di dalamnya juga ada CCTV untuk memantau greenhouse. “Dengan sistem tersebut, kami juga dapat meminimalisir risiko gagal panen,” ujar perangkat Desa Karangpandan itu.

Sebab, semua perawatan tanaman sudah terjadwal dan pemupukan maupun pengairan sudah terukur. Sehingga lebih efektif. Sayangnya sistem pertanian tersebut belum diterapkan secara menyeluruh di Kabupaten Malang. Setidaknya hanya ada tiga kecamatan yang sudah menerapkan IoT untuk perkembangan pertanian. Yakni Pakisaji, Wonosari, Donomulyo. Khusus di Pakisaji, ada tiga desa yang memiliki greenhouse aktif. Yakni Karangpandan, Permanu, dan Pakisaji.(yun/dan).

Editor : Mahmudan
#pakisaji malang #petani