DONOMULYO - Kekeringan masih melanda sebagian desa di Malang selatan, meski beberapa kali diguyur hujan.
Sumber di Dusun Sengkaring, Desa Tulungrejo, Kecamatan Donomulyo Malang yang sebelumnya menghasilkan air bersih, kini mengering.
Kemarin (14/10), tim Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (DPUSDA) Kabupaten Malang meninjau kondisi sumber.
Tujuannya untuk mencari solusi, sehingga bisa memenuhi kebutuhan air bersih warga.
Kepala DPUSDA Kabupaten Malang Farid Habibah menyampaikan, pihaknya masih memerlukan pendalaman untuk identifikasi lebih lanjut.
Sebab, sejauh ini hanya diketahui kedalaman salah satu lubang yang mencapai lebih dari 10 meter.
Namun masih terdapat lubang-lubang lain yang belum diketahui.
“Kami membutuhkan geo listrik untuk mengetahui aliran listrik di bawah tanah. Serta pola aliran akuifer (lapisan bawah tanah yang mengandung air),” ujar Habi bah kemarin (14/10).
Pihaknya juga sudah bekerja sama dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI.
Termasuk relawan dari Sahabat Alam Indonesia, Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam (Impala), dan profesor di bidang pengairan.
Berdasar hasil komunikasi dengan berbagai pihak, Habibah menjelaskan, fenomena tersebut sulit diketahui penyebabnya.
Sehingga belum ada penyelesaian yang pasti untuk fenomena itu.
Untuk sementara diperkirakan ada dua penyebab.
Yakni adanya perubahan CAT (Catchment Area Treatment) atau tangkapan di hulu terkait air yang mengalir dapat menjadikan air tidak dapat naik.
“Seperti hukum Archimedes, volume air yang masuk sama dengan yang keluar,” jelasnya.
Kedua, dia mengatakan, adanya perubahan patahan di sepanjang aliran bawah tanah.
Ketika ada perubahan kontur, patahan, atau perubahan aliran, dia mengatakan, air tidak bisa naik.
Perubahan tekanan walaupun kecil, bisa jadi mengubah arah aliran.
Hal tersebut masih belum dipastikan oleh DPUSDA.
Akibat sumber mengering, lahan sawah padi dengan luas sekitar 245 hektare menghentikan proses produksi.
Karena ada perbedaan tinggi, air tidak dapat naik ke sawah.
“Harapannya ya segera turun hujan. Jadi yang saat ini masih tanam, bisa segera teraliri air,” kata Habibah.
Sementara kebutuhan sehari hari masyarakat 857 KK selama ini dapat dipenuhi dari sumber tersebut.
Setiap hari, mereka mengambil 1.000 liter air menggunakan galon yang diangkut pikap
Ada dua pikap dari pe merintah yang digunakan untuk mengangkut galon itu.
Ditambah truk tangki beruku ran 5.000 liter dari BPBD Kabupaten Malang. (yun/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana