Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Cerita Warga Sengguruh Kepanjen Malang yang Tinggal di Rumah tanpa Atap, Terdampak Gempa 2021, Tahu Awal 2024 setelah dari Banjarmasin

Bayu Mulya Putra • Sabtu, 19 Oktober 2024 | 03:00 WIB
LISTRIK NUMPANG KE TETANGGA: Atap yang tersisa di kediaman Bambang Sutrisno hanya di bagian ruang tamu. Foto kanan, sehari-hari Bambang tidur dengan tambahan atap terpal.
LISTRIK NUMPANG KE TETANGGA: Atap yang tersisa di kediaman Bambang Sutrisno hanya di bagian ruang tamu. Foto kanan, sehari-hari Bambang tidur dengan tambahan atap terpal.

NABILA AMELIA

DERETAN poster lawas masih terpajang di kediaman Bambang Sutrisno, di Jalan Padepokan RT 16/RW 2, Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang.

Ada poster aktris Shireen Sungkar, band Kotak, band Slank, band Ungu, band d’Masiv, hingga gambar-gambar hewan di rumah warga Kepanjen itu.

Seluruh poster itu merupakan barang dagangan Bambang yang tersisa di kediamannya di Kepanjen.

Sebelum pindah ke Banjarmasin, keluarganya memang pernah membuka warung mainan di sana.

Warung tersebut menjual berbagai mainan anak-anak, termasuk aneka poster.

Letak tokonya di salah satu ruangan di rumah tersebut.

Masuk lebih dalam ke rumahnya, orang mungkin akan terheran-heran.

Sebab, rumah dengan ukuran sekitar 72 meter persegi tersebut tidak memiliki atap.

Atap yang tersisa hanya di ruang tamu.

Kondisi bangunan yang tanpa atap sudah terjadi sejak 2021.

Saat itu, gempa melanda Kabupaten Malang.

Akibatnya, atap rumah milik Bambang rusak parah.

Ditambah dengan kondisi rumah yang sudah berdiri sebelum tahun 1974.

Sehingga banyak bagian rumah yang rapuh.

Selepas kejadian gempa itu, tetangga belum memberi tahu kondisi rumah karena lost contact dengan Bambang.

Baru saat dia kembali pada awal 2024, tetangga menjelaskan kalau rumah Bambang terdampak gempa pada 2021.

Pria berusia 50 tahun itu hanya bisa pasrah melihat kondisi rumahnya.

Beruntung, dia tidak memboyong lima anggota keluarnya kembali ke rumah.

Terutama ayahnya, yang sudah berusia lebih dari 80 tahun.

”Bapak saya sudah tua, sementara kalau mau kembali ke Banjarmasin biayanya mahal karena harus naik travel dan kapal,” cerita dia, kemarin.

Setiap hari, Bambang hidup di rumah itu sendirian.

Meski hidup pas-pasan, dia tidak pernah meminta-minta ke tetangganya.

Dia memilih bekerja semampunya.

Kadang dia menerima panggilan untuk menjadi kuli atau pekerjaan serabutan lainnya.

Kendati begitu, Bambang tetap berharap bisa mendapat bantuan perbaikan untuk rumahnya.

Apalagi, tidak lama lagi akan masuk musim hujan.

”Kemarin sempat hujan. Saya akhirnya tidur di ruang tamu yang diberi terpal,” jelasnya.

Selain tidak memiliki atap, rumah Bambang juga belum teraliri listrik.

Biasanya, dia ikut listrik dari tetangga di sekitarnya.

Sementara untuk air, baru-baru ini Bambang telah membangun sumur.

Sebelumnya, dia harus ke Sumber Songo di Desa Jenggolo yang jaraknya hampir satu kilometer.

Di sumber air itulah dia mandi hingga melakukan aktivitas mencuci baju.

Sebenarnya banyak yang harus diperbaiki dari rumah Bambang.

Misalnya saja lantai yang belum ada keramiknya.

Lilik Sriwulan, tetangganya, merasa prihatin dengan kondisi Bambang.

Hal serupa juga dirasakan tetangga-tetangga lainnya.

Karena itu, mereka berupaya membantu Bambang sebisanya.

Jika Bambang membutuhkan sesuatu, mereka selalu membantu.

”Kan memang orang-orang di desa rasa kekeluargaannya tinggi,” kata Lilik.

Saat hujan turun, mereka juga menawari Bambang untuk menginap sementara.

Photo
Photo

Namun, Bambang tidak pernah mau karena enggan merepotkan tetangga sekitar.

”Orangnya selalu berupaya mencukupi kebutuhan sendiri. Tidak pernah merepotkan tetangga, orangnya gemi (hemat),” imbuh Lilik.

Dalam waktu dekat, tetangganya berencana gotong royong untuk memperbaiki rumah Bambang.

Mereka khawatir akan nasib Bambang jika hujan turun.

Bambang juga sudah didaftarkan untuk bisa menerima bantuan sosial.

Namun, saat ini masih berproses.

Kepala Desa Sengguruh Jamburi juga sudah berupaya membantu Bambang.

Dia mendaftarkan rumah milik Bambang dalam Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL).

”Untuk perbaikan rumah juga sudah kami ajukan ke Bantuan Amil Zakat Nasional (Baznas),” kata dia.

Saat ini, pengajuannya masih menunggu pihak Baznaz Kabupaten Malang.

Ketua BAZNAS Kabupaten Malang Khoirul Hafidz Fanani masih memproses pengajuan bedah rumah di 33 kecamatan.

Saat ini pengajuannya mencapai ratusan.

Namun, yang terealisasi baru 318 rumah.

”Masih ada kuota, karena target tahun ini ada 420 rumah,” terang Khoirul.

Pihaknya pun berjanji akan mengecek pengajuan bedah rumah yang masih berproses, termasuk di Desa Sengguruh.

Survei akan dilakukan pihaknya.

Bila dianggap layak, akan mendapat bantuan.

Satu rumah mendapat jatah perbaikan Rp 15 juta, yang dibantu pembangunannya oleh pendamping. (*/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#KEPANJEN #Sengguruh #rumah tanpa atap #malang #warga desa #Banjarmasin