SUMBERPUCUNG - Debit air di Bendungan Lahor, Desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, menyusut.
Sebelumnya, kedalaman air bendungan di Kabupaten Malang tersebut berkisar 35 meter.
Di ujung musim kemarau di Kabupaten Malang ini tersisa 17 meter.
Penyusutan diperkirakan mencapai belasan meter.
Pantauan Jawa Pos Radar Kanjuruhan kemarin, tanah di area waduk mengering dan pecah-pecah.
Beberapa bangkai ikan tergeletak karena kekurangan air.
Informasi yang dihimpun di lokasi, penyusutan debit air berlangsung sejak Juli lalu.
“Cuaca itu sangat pengaruh. Termasuk untuk pengusaha pemancingan dan peternak ikan seperti kami,” ujar Hadi Prawoto, salah seorang pemilik tambak dan usaha pemancingan di bendungan Lahor.
Sejak debit air bendungan menyusut, usaha pemancingannya juga ikut surut.
Sebab rata-rata pemancing enggan berkunjung karena sulit mendapatkan ikan.
Sebenarnya minggu lalu debit air sudah mulai naik lagi.
Berada di kisaran lima meter.
Itu karena dampak hujan dari Kota Malang dan beberapa kali hujan di daerah bendungan Lahor.
Namun pekan ini mulai mengalami penyusutan lagi kisaran satu meter.
Pria yang akrab disapa Otto itu memprediksi, debit air akan mulai meningkat bulan depan.
Melihat curah hujan yang semakin intens di wilayah Malang Raya.
Sebagai pengusaha yang mengandalkan cuaca, Otto berharap bendungan Lahor segera penuh lagi untuk memulai pembibitan ikan.
“Kalau usaha pemancingan masih bisa bertahan, karena satu-dua pemacing kadang masih datang,” lanjut pria berusia 52 tahun itu.
Namun bagi petani yang murni hanya budi daya ikan, tentu kondisi ini amat sangat tidak menguntungkan.
Sebab para pembudidaya ikan sulit panen karena ukuran ikan tak kunjung besar.
Otto memaparkan, sudah setahun dia melakukan pembibitan ikan baru.
Namun masih belum bisa dipanen.
Menurutnya, kandungan plankton di bendungan Lahor sudah mulai habis sehingga airnya kurang bagus untuk perkembangan ikan-ikan baru.
”Sari air di bendungan Lahor mulai habis. Selain itu, mencari bibit ikan yang benar-benar bagus juga mulai sulit karena terlalu banyak pilihan,” kata dia. (aff/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana