Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Produksi Dupa Dalisodo Malang Terhambat Cuaca

Mahmudan • Rabu, 30 Oktober 2024 | 15:00 WIB

 

PRODUK LOKAL: Seorang pegawai home industry dupa di Desa Dalisodo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang memegang stik kayu untuk dimasukkan ke wadah berisi serbuk kayu.
PRODUK LOKAL: Seorang pegawai home industry dupa di Desa Dalisodo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang memegang stik kayu untuk dimasukkan ke wadah berisi serbuk kayu.

 

WAGIR - Cuaca tidak menentu berpengaruh terhadap produksi dupa. Produksinya terhambat jika tiba-tiba diguyur hujan. Setidaknya, itulah yang dirasakan oleh home industry dupa di Desa Dalisodo, Kecamatan Wagir.

”Kalau hujan dari pagi gitu ya produksinya berhenti. Misalnya per orang biasanya menghasilkan 50 kilogram dalam sehari, akhirnya ya tidak produksi sama sekali,” ujar Sukamto, salah satu produsen dupa asal Dalisodo,Wagir.

Dia mengatakan, proses pembuatan dupa memerlukan sinar matahari untuk menjemur. Langkah pertama pembuatan dupa adalah memotong kayu menjadi stik berukuran 25-30 sentimeter. Setelah itu dicelupkan ke soda api. Itu adalah senyawa kimia natrium hidroksida (NaOH) yang memiliki sifat basa kuat dan alkali tinggi. Kemudian stik ditempel bahan pelekat serbuk kayu. Pencampuran serbuk kayu dilakukan sampai tiga kali. Kemudian terakhir dijemur. 

“Jika cuaca cerah, dalam satu hari dupa sudah siap pakai. Namun ketika mendung, dapat kering dalam dua hari atau lebih,” lanjutnya. Jika hujan terjadi setelah proses produksi dan tinggal menjemur, dupa akan ditutup dengan plastik. Setidaknya, terhindar dari air hujan.

Selama ini, dupa Dalisodo dikirim ke Bali. Biasanya mereka mengirim sekali dalam seminggu. Tapi jika sedang banjir pesanan, bisa mengirim dua kali dalam sepekan. Setiap pengiriman mencapai 2-4 ton  dupa. ”Kalau hujan bisa kurang dari itu. Tapi kami tidak bisa memperkirakan, karena menyesuaikan cuaca,” ucap Sukamto.

Terpisah, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang Rahmad Ichwanul Muslimin memaparkan, anomali cuaca terjadi karena ada fenomena alam yang hampir bersamaan. Yakni La Nina dan El Nino. ”Kalau prediksi kami, cuaca ekstrem itu kemungkinan sampai akhir Oktober ini,” kata dia. (yun/dan).

Editor : Mahmudan
#wagir malang #dupa #Cuaca