Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Produksi Sapi Ternak Kabupaten Malang Turun, Bahan Baku Olahan Keju Merosot

Mahmudan • Jumat, 8 November 2024 | 01:45 WIB
INSPEKSI: Plt Bupati Malang Didik Gatot Subroto (dua dari kiri) meninjau kandang sapi di Desa Bambang, Kecamatan Wajak, Selasa lalu (5/11). Susu sapi menjadi bahan baku pembuatan keju.
INSPEKSI: Plt Bupati Malang Didik Gatot Subroto (dua dari kiri) meninjau kandang sapi di Desa Bambang, Kecamatan Wajak, Selasa lalu (5/11). Susu sapi menjadi bahan baku pembuatan keju.

WAJAK – Merosotnya jumlah sapi ternak yang dikelola Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang berdampak terhadap produksi keju.

Selama ini, unit pelaksana teknis (UPT) pembuatan keju mengandalkan susu dari peternakan sapi.

Selasa lalu (5/11), Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Malang Didik Gatot Subroto meninjau peternakan sapi di area UPT pengolahan keju, Desa Bambang, Kecamatan Wajak “Sapi yang kami ternak ini semakin menurun. Tentunya harus kami evaluasi hal-hal yang kurang tepat dan mencarikan langkah-langkah ke depannya,” ujar Didik yang didampingi beberapa kepala perangkat daerah (PD) itu.

Berdasar hasil tinjauan, Didik menyampaikan, kapasitas kandang sebenarnya cukup banyak.

Namun banyak kandang yang kosong.

Kemudian, hasil susu yang diperah dari sapi tersebut juga minim.

“Kemampuan (memproduksi susu) per ekor hanya sekitar 8-10 liter per hari,” ucap pria yang juga Wakil Bupati (Wabup) Malang itu.

“Ini kan perlu untuk dievaluasi apa sebabnya. Mungkin sapinya yang sudah tua dan sebagainya,” imbuhnya.

Karena itu, dia melanjutkan, salah satu alternatifnya yakni menambah jumlah sapi di UPT tersebut.

Namun penambahan sapi tersebut harus diiringi dengan kualitas pakan yang seimbang.

Sehingga produksi susunya bisa lebih banyak. Sebab, susu tersebut akan digunakan sebagai bahan baku produksi keju.

Selain itu, alternatif lainnya yakni kerja sama dengan pihak ketiga.

Sehingga pengolahan keju dapat dimaksimalkan.

“Di kanan-kiri UPT ini kan banyak peternak sapi perah. Maka susunya bisa mengambil dari mereka untuk diolah menjadi keju,” ucap Didik.

Menurut hasil pengamatan Jawa Pos Radar Kanjuruhan, kandang-kandang di UPT tersebut banyak yang kosong.

Prasarana kandang di dalamnya juga memerlukan perhatian.

Seperti blower yang rusak sehingga terpaksa harus melubangi atap supaya sirkulasi udara tetap lancar.

Sementara itu, Kepala UPT Pembibitan dan Pengolahan Hasil Peternakan Kabupaten Malang Hari Gunadi menyampaikan, sapi mulai berkurang sejak pandemi Covid-19 lalu.

“Sebelum pandemi, sapi kami ada sekitar 130-140 ekor. Kemudian berkurang hingga sekitar 100 ekor. Kondisi semakin memprihatinkan karena wabah PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) hingga sekarang sapinya tinggal 38 ekor,” kata dia.

Anggaran yang dikucurkan Pemkab Malang pun terbatas.

Tahun ini hanya dialokasikan Rp 800 juta.

Dari total anggaran tersebut, Rp 500 juta digunakan untuk produksi pakan.

Sedangkan sisanya untuk memenuhi kebutuhan susu yang kurang.

“Dengan kondisi seperti ini sebenarnya sangat kurang. Kami terus berupaya memaksimalkan, bagaimana bisa jalan dan hasilnya baik,” pungkasnya. (yun/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Merosot #bahan baku #Kabupaten Malang #olahan keju #sapi ternak