Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Demi Ide, ke Toilet Pun Bawa Kertas dan Pulpen, dari Bawah Rumpun Bambu, Siswa SMK Sunan Ampel Kasembon Malang Luncurkan Buku

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Senin, 11 November 2024 | 18:45 WIB
YANG PERTAMA: Dari kiri, Erna Fibriana, Chrisdhiyanto, Tauhid Wijaya, Zanuarifki, Ichwan Santoso, dan moderator Enik Muarofah dalam peluncuran buku di SMK Sunan Ampel, Kasembon, Sabtu (9/11).
YANG PERTAMA: Dari kiri, Erna Fibriana, Chrisdhiyanto, Tauhid Wijaya, Zanuarifki, Ichwan Santoso, dan moderator Enik Muarofah dalam peluncuran buku di SMK Sunan Ampel, Kasembon, Sabtu (9/11).

Dari tangan yang biasa ngarit tiap pulang sekolah, siapa sangka bisa mengalir deras untaian metafora yang indah? Kemewahan kata-kata bukan lagi hak eksklusif sastrawan ternama.

Kau turun tanpa kabar Membuat awan putih menjadi hitam Angin yang awalnya tenang menjadi ribut Setetes demi setetes engkau turun

TANPA membaca judulnya, pembaca bisa dipaksa menebak-nebak puisi itu bercerita tentang apa. 

Padahal, penulisnya hanya ingin menceritakan tentang rintik hujan seperti judulnya-dengan romantika di dalamnya. 

Itu adalah salah satu dari empat puisi yang ditulis oleh Erna Fibriana, siswi kelas X MPLB SMK Sunan Ampel Kasembon. 

Tiga yang lain adalah Menyambut Pagi Hari, Petunjuk Waktu, dan Bunga Tidur. 

“Saya harus merenung untuk mencari ide dan menemukan pilihan kata yang tepat,” sebut Erna sambil menundukkan pandangannya. 

“Seringkali itu saya lakukan sambil duduk-duduk di balai rumah,” sambungnya menceritakan proses kreatif penulisan empat judul puisinya tersebut. 

Padahal, Erna tak suka mata pelajaran (mapel) Bahasa Indonesia. 

Dan, itu adalah karya pertamanya di luar tugas mapel tersebut. 

Selain itu, alih-alih mengalir darah sastrawan, kedua orang tua nya adalah petani. 

“Bapak dan emak kerja di sawah,” tutur gadis asal Dusun Wungurejo, Desa Wonoagung, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang itu. 

Lain lagi dengan Ahmad Afwan Sofwanul Zaki. 

Idenya justru mengalir deras saat “nongkrong” di toilet. 

Tiga dari empat judul puisinya lahir dari sana. 

“Makanya, saya biasa bawa buku dan pulpen waktu BAB (buang air besar),” akunya disambut ledakan tawa seisi ruangan peluncuran dan diskusi buku Sajak dari Slatri: Sebuah Ontologi Puisi, Sabtu (9/11) lalu. 

Remaja asal Ngantang, tetangga Kecamatan Kasembon, ini juga anak petani. 

“Kalau ibu guru ngaji,” kata remaja 17 tahun yang empat puisinya berjudul Jeruji Suci, Gemuruh Riuh Malam, Racun dalam Cangkir Emas, dan Lahirnya sang Baginda itu. 

Ditulis 31 siswa dan 3 guru, Sajak dari Slatri: Sebuah Antologi Puisi berisikan total 124 puisi.

PERDANA: Sampul buku Sajak dari Slatri karya siswa SMK Sunan Ampel Kasembon.
PERDANA: Sampul buku Sajak dari Slatri karya siswa SMK Sunan Ampel Kasembon.

Sebanyak 117 di antaranya adalah murni karya siswa. 

Tiap siswa rata-rata membuat 3-4 judul puisi. 

Temanya macam macam. 

Mulai romansa anak muda, kondisi alam sekitar, hingga ketuhanan. 

“Kami membebaskan anak-anak mau menulis apa saja,” kata Ichwan Santoso, kepala SMK Sunan Ampel, Kasembon. 

Sekolah itu terletak di Dusun Slatri, Desa Pait. Lokasinya agak nylempit. 

Dari Jalan Raya Kasembon Ngantang masuk kurang lebih 300 meter ke arah utara. 

Lalu sedikit masuk lagi sekitar 30 meter yang akses jalannya hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. 

Mobil tidak bisa masuk. Sehingga hampir tidak terlihat dari jalan. 

Gedung sekolahnya cukup sederhana. Berada di pegunungan dan dekat hutan, kontur lahannya tidak rata. 

Peluncuran buku digelar di ruang aula yang juga difungsikan sebagai musala. 

Dari gedung utama harus sedikit naik lagi. 

Dindingnya separo, terbuat dari batang batang bambu yang disusun rapi dalam posisi berdiri. 

Lantai nya masih berupa semen cor. 

Di belakangnya lagi adalah rumpun-rumpun bambu yang cukup lebat. 

Pemandangan sekitarnya dipenuhi warna hijau dedaunan dari aneka tumbuhan pegunungan. 

“Siswa di sini mayoritas memang anak-anak petani,” ungkap Ichwan. 

“Banyak yang sepulang sekolah harus ngarit, mencari rumput untuk pakan ternak di rumah.” 

Makanya, mengajak mereka untuk menulis puisi bersama bukanlah pekerjaan mudah. 

Para siswa harus dilatih dulu selama sebulan. 

Ichwan pun mendatangkan teman temannya dari Gelaran Buku Jambu Daar el Fikr, Kediri yang juga merupakan penerbit buku itu. 

Total ada empat pertemuan. Dua kali Minggu dan Senin. Tiap pukul 08.00 sampai 14.00. 

“Salah satu yang paling sulit adalah mencari metafora dari apa yang ingin kita ungkapkan,” aku Zaki yang diamini Aisyah, siswi lain yang ikut menyumbangkan puisinya di buku tersebut. 

Itu dibenarkan Ahmad Ikhwan Susilo dari Gelaran Buku Jambu Daar el Fikr. 

“Perbendaharaan kata anak anak masih minim,” katanya. 

Makanya, dia harus memancingnya dulu dengan memberikan buku-buku kumpulan puisi dari sejumlah penulis untuk dibaca para siswa. 

Seperti karya Sapardi Djoko Damono. Juga karya penulis seusia mereka. 

Problem lain adalah kepercayaan diri para siswa yang masih kurang dalam memilih tema. 

“Solusinya, kami sarankan untuk pilih tema dari kehidupan keseharian mereka lebih dulu,” sambung lelaki yang akrab disapa Iwan Kapit itu. 

“Tapi, terlepas dari kekurangan yang pasti ada, ini adalah karya yang inspiratif. Satu-satunya SMK di Malang yang siswanya sudah bisa menerbitkan buku,” puji Chrisdhiyanto, pengawas SMK pada Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Malang, yang menjadi pembicara diskusi buku bersama Direktur Jawa Pos Radar Malang Tauhid Wijaya dan aktivis literasi Zanuarifki. 

MENEMBUS BATAS: Pembicara, kepala sekolah, guru, peserta, dan siswa SMK Sunan Ampel Kasembon usai peluncuran buku di aula yang berdinding bambu, Sabtu (9/11).
MENEMBUS BATAS: Pembicara, kepala sekolah, guru, peserta, dan siswa SMK Sunan Ampel Kasembon usai peluncuran buku di aula yang berdinding bambu, Sabtu (9/11).

“Saingannya cuma SMAN 1 Kota Malang,” lanjut Chris. 

Lebih dari sekadar ungkapan Pramoedya Ananta Toer bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian, apa yang dilakukan oleh para siswa SMK Sunan Ampel Kasembon itu adalah implementasi dari perintah Tuhan. 

Seperti wahyu pertama kepada Nabi Muhammad yang memerintahkan untuk membaca. 

“Ini pelaksanaan dari Surat Al ‘Alaq ayat 1-5,” kata Ja’far Shodiq, sekretaris Yayasan Sunan Ampel. 

Dengan seucap kata Kata itu sudah bermakna Dengan ketenangan rasa Membawa jiwa dan raga untuk mendekat kepada Nya 

Begitu penggalan puisi Huruf yang Tertulis karya Aulia Dhuriyati Subrata, siswi asal Dusun Bra’an, dusun sebelah Slatri, tempat sekolah itu berada. (hid)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Kabupaten Malang #SMK Sunan Ampel Kasembon #Kasembon #puisi