BANGUNAN bekas stasiun itu tidak bisa dilihat secara langsung dari Jalan Utama Kepanjen-Turen-Dampit di kawasan Gondanglegi Malang.
Harus masuk dulu ke Jalan Suropati yang letaknya dua gang sebelum makam umum Desa Gondanglegi Wetan (jika berjalan dari arah barat).
Setelah 70 meter, barulah terlihat bangunan bekas stasiun kereta api Gondanglegi yang sudah tidak digunakan sesuai fungsinya.
Gedung dengan panjang sekitar 50 meter dan lebar 15 meter itu masih mempertahankan beberapa ciri khas kuno.
Yakni pilar dengan batu ekspose (batu hitam yang ditempelkan secara tak beraturan).
Jumlahnya 12 pilar dan mudah terlihat jika berjalan mengelilingi gedung.
Kini, bangunan tersebut dijadikan rumah tinggal oleh sekitar enam kepala keluarga.
Bagian tengah stasiun tersebut masih seperti dulu, bolong tanpa tembok.
Dulu menjadi tempat keluar masuknya penumpang.
Stasiun Gondanglegi dibangun dan dimiliki perusahaan trem uap Belanda bernama Malang Stoomtram Maatschappij (Maskapai Trem Uap Malang).
Dalam buku berjudul De Stoomtractie Op Java en Sumatra karya J.J.G Oegema tahun 1982, disebutkan bahwa Stasiun Gondanglegi merupakan stasiun tengah atau transit dari tiga jalur Trem Uap Malang.
Yakni jalur utara ke Malang Jagalan (Kota Malang), jalur ke wilayah timur dan Dampit, serta jalur barat ke arah Kepanjen.
Pembangunannya rampung pada tahun 1898.
Pada tahun yang sama juga selesai pembangunan trase Malang Jagalan ke Gondanglegi via Kendalpayak-Bululawang.
Dua tahun setelah itu, dari Gondanglegi ke arah selatan Kota Malang memiliki dua cabang.
Yakni ke Talok (Turen) dan Dampit pada 1899, serta ke Kepanjen pada tahun 1900.
Sayangnya, kisah Malang Selatan yang punya kereta antar-kecamatan itu berakhir pada 1983.
Yakni dengan ditutupnya operasional jalur bekas trem uap.
Kini, perkampungan di kawasan sekitar bekas Stasiun Gondanglegi tergolong sepi aktivitas.
Termasuk saat disambangi Jawa Pos Radar Malang pada Rabu (27/11).
Biasanya, kawasan di sekitar bekas stasiun KA menjadi tempat tinggal keluarga petugas-petugas operasional terakhir.
Tapi, menurut warga bernama Aminah, 52, hal tersebut sudah sulit ditemukan.
”Banyak yang sudah meninggal dunia,” ujarnya Aminah mencontohkan dua pensiunan PT KAI yang dulu bertugas di Stasiun Gondanglegi, yakni Pangin, Samirun.
Keduanya sudah meninggal dunia.
Ada juga istri pensiunan yang bernama Surati.
Tapi kini sudah pikun dan sakit-sakitan.
Generasi setelah mereka memilih merantau dan tinggal di luar Gondanglegi.
Aminah sendiri merupakan istri almarhum sesepuh di lingkungan itu.
Suaminya, Subari, merupakan warga yang menetap di kawasan tersebut sejak zaman kereta api masih lalu lalang di Gondanglegi.
Subari sempat menjadi ketua RT seumur hidup dan meninggal pada 2017.
Karena tinggal di kawasan tersebut sudah sangat lama, Aminah banyak mengerti tentang kehidupan masyarakat saat Stasiun Gondanglegi masih aktif.
Kebetulan tempat tinggal Aminah merupakan bekas rumah dinas pegawai KA yang posisinya sejajar dengan bangunan utama stasiun.
Ibu satu anak itu juga menunjukkan surat sewanya ke wartawan koran ini.
Baca Juga: Vaksinasi Booster, dari Persyaratan untuk Mobilitas hingga untuk Jemaah Haji
Berbentuk seperti makalah yang memiliki 20 halaman.
Dalam salah satu halaman tertera denah emplasemen stasiun, ditambah dengan petak-petak pembagian lahan.
”Dulu stasiun ini memiliki tiga jalur. Yang ke Dampit dan Malang itu satu jalur ke arah timur. Kalau yang ke Kepanjen ada di barat,” tutur Aminah sambil mengangkat jari telunjuk ke arah yang dia tunjuk.
Untuk KA yang dari Malang menuju Dampit harus memutar posisi lokomotif atau menggantinya dari depo lokomotif yang berjarak 200 meter di sebelah timur stasiun.
Frekuensi perjalanan KA kala itu juga cukup banyak.
Dari data Grafik Perjalanan KA (Gapeka) Stasiun Gondanglegi tahun 1955, terdapat enam jadwal pemberangkatan jurusan Malang Jagalan-Gondanglegi pulang pergi (PP).
Lima di antaranya meneruskan perjalanan ke Dampit.
Sayangnya, pada tahun tersebut tidak ada lagi perjalanan KA dari Gondanglegi menuju Kepanjen. Sebab, rel di jalur itu sudah dicabut Jepang pada 1947.
Dalam buku Officieele Reisgids der Spoor en Tramwegen en Aansluitende Automobieldiensten op Java en Madoera’ terbitan N.V Sie Dhian Ho, Solo, 1926, disebutkan bahwa KA dari Malang menuju Gondanglegi memiliki delapan kali perjalanan PP.
Tujuh diteruskan ke Dampit.
Sedangkan ke Kepanjen terdapat tiga kali PP.
Pada 1974, Stasiun Gondanglegi bahkan digunakan sebagai tempat syuting film berjudul Cinta Remaja.
Aminah mengaku sedikit mengetahui cerita tersebut.
“Film itu dibintangi Sophan Sophian dan Widyawati. Katanya memang syuting di sini,” ucap dia.
Salah satu scene film hitam putih itu menunjukkan Sophan Sophian dan Widyawati menaiki tender (bagian penampung bahan bakar) lokomotif D11 07 menuju Malang.
Bangunan utama stasiun tampak jelas.
Juga bangunan depo lokomotifnya yang kini hanya menyisakan dinding saja.
Cerita Stasiun Gondanglegi sebagai tempat penting moda transportasi berakhir pada tahun 1983.
Menurut Aminah, yang terakhir-terakhir lewat hanya kereta barang dan kereta yang memuat tebu.
Setelah itu stasiun ditutup dan bangunannya mangkrak.
Pada tahun itu sebenarnya masih ada beberapa pegawai yang tinggal di sana.
Tapi, pada 1985 sudah benar-benar ditinggalkan.
Area emplasemen stasiun yang dulu terlihat lapang berubah menjadi lahan yang ditumbuhi rumput ilalang.
Bahkan, kawasan itu sempat menjadi tempat sembunyi para pelaku kriminal.
Kemudian datang seseorang bernama Girun yang bersih-bersih dan menjadikan kawasan itu ramai kembali.
Tapi, sebagai tempat prostitusi.
”Makin ramai pendatang, terutama para perempuan nakal. Sebelum zaman Bupati Rendra Kresna, keberadaan rumah bordil hampir menyentuh stasiun. Ada bekas rumah dinas yang dipakai juga,” ungkap Aminah.
Praktis sejak dekade 2000-an, kawasan Stasiun Gondanglegi dikenal sebagai Lokalisasi Girun.
Sebagian orang bahkan meyakini bahwa gedung stasiun pernah ditempati perempuan nakal.
Bangunan tandon air lokomotif uap yang berjarak kurang lebih 100 meter ke arah timur juga terdampak.
Di bawahnya dibangun rumah dan sempat digunakan untuk wisma ”perempuan pelat kuning”.
Kini, karena sering dirazia aparat penegak hukum, kawasan prostitusi itu bergeser ke arah timur.
Mengikuti bekas jalur kereta yang mengarah ke Dampit.
”Tapi sampai sekarang orang masih menganggap Stasiun Gondanglegi itu masuk kawasan Girun,” tandas Aminah. (*/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana