KABUPATEN – Hingga kemarin (3/12), sebagian sawah di Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, masih tampak kering akibat kemarau.
Datangnya musim hujan membawa harapan baru.
Sebagian petani mulai menggarap sawah-sawah mereka.
Di sisi lain, para petani juga dihantui ancaman banjir yang melanda tiap tahun.
Warga setempat menjelas kan, Desa Sitiarjo dilanda kekeringan sejak September 2024.
Akibatnya, puluhan hektare sawah tidak bisa ditanami.
Hujan yang turun beberapa hari terakhir membuat sawah mulai bisa digarap.
Kemarin tampak beberapa warga mulai memotong rumput liar.
Ada pula yang sudah mulai membajak sawah untuk bisa ditanami padi.
Sebagian petani sibuk mengairi lahannya melalui saluran irigasi yang sudah kembali dialiri air.
Desa Sitiarjo memang baru dinyatakan pulih dari kekeringan pada 24 November.
Mata air dan sungai di sana sudah mulai dialiri air setelah hujan turun di wilayah tersebut.
Tapi, intensitas hujan meningkat dari hari ke hari.
Warga pun khawatir hal itu justru akan membawa petaka baru.
”Kami mulai menggarap sawah lagi setelah saluran irigasi teraliri air,” ujar Pirnoadi, 59, salah satu petani di Desa Sitiarjo.
Namun, pada 28 November lalu, sebagian dari desa itu malah terendam banjir.
Genangan air setinggi 30 sentimeter melanda pemukiman dan sawah warga setelah satu hari satu malam hujan turun dengan deras.
Banjir itu berasal dari luapan Sungai Kedungbanteng yang mengelilingi area persawahan warga.
Para petani pun hanya bisa harap-harap cemas.
Sebab, sekali terendam banjir, padi yang mereka tanam nantinya terancam gagal panen.
”Tapi, mau tidak mau kami harus menggarap sawah. Mumpung ada air,” lanjut Pirnoadi.
Hal itu dibenarkan Kepala Desa Sitiarjo Mamiek Misniati.
Sawah di daerahnya memang memiliki sistem sekali tanam dalam setahun.
Sebab, dam yang ada di Sungai Kedungbanteng jebol dan belum diperbaiki.
Akibatnya pasokan air ke sawah sedikit terhambat.
Jika saat ini petani tidak menanam padi sawah karena takut banjir, dikhawatirkan beberapa bulan kedepan sudah tidak ada kesempatan lagi.
Apalagi pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang menuturkan puncak musim hujan ada pada pertengahan Desember.
Saat ini, intensitas hujan yang turun masih termasuk landai.
Pada pertengahan Desember hingga akhir, hujan akan semakin sering turun dengan deras. (aff/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana