KEPANJEN - Tebu menjadi salah satu komoditas utama di Kabupaten Malang.
Luas lahannya mencapai 47 ribu hektare di Kabupaten Malang.
Itu sekitar 29,19 persen dari total lahan pertanian di Kabupaten Malang yang mencapai sekitar 161 ribu hektare.
Pada 2024 ini, produksi tebu meningkat hingga 4 persen.
Data Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang mengungkap, produksi tebu mencapai 4,01 juta ton.
Kemudian pada 2024 ini meningkat menjadi 4,2 juta ton.
“Untuk luasan lahan tanam tebu pada 2024 ini naik. Dari yang sebelumnya 44 ribu hektare menjadi 47 ribu hektare,” ujar Kepala Bidang Perkebunan DTPHP Kabupaten Malang Kholida Masruroh kemarin.
Meskipun sudah ada peningkatan, DTPHP tetap berupaya meningkatkan produksi.
Salah satunya melalui rawat ratun.
Yakni memaksimalkan produksi dari tebu yang sudah ada.
“Tahun depan, kami ada demplot (demonstration plot) tebu dari pemerintah provinsi (pemprov),” ucap pejabat eselon III B Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang itu.
Dengan adanya demplot, dia mengatakan, terdapat perlakukan khusus.
Seperti pemupukan yang dimaksimalkan, baik pupuk organik maupun non organik.
Total lahan untuk demplot itu sekitar 3 hektare.
Nantinya, pemprov bekerja sama dengan salah satu pabrik gula di Kabupaten Malang.
Sebab, pabrik tersebut sudah memproduksi pupuk dari ampas tebu.
Sebelumnya, Kepala DTPHP Kabupaten Malang Avicena Medisica Sani Putera menyebut, sebenarnya, rawat ratun hanya efektif dilakukan selama 56 tahun.
Lebih dari jangka waktu tersebut, kualitas produksi tanaman tebu akan menurun.
Sedangkan, menurutnya, masyarakat menerapkan rawat ratun sampai 10 tahun.
Karena itu, sempat terjadi penurunan produksi pada 2023.
“Namun, produksi tebu dari Kabupaten Malang masih mampu mencukupi kebutuhan gula di Jawa Timur,” ucapnya.
Kemudian, untuk memaksimalkan produksi, saat ini, Kabupaten Malang memiliki varietas baru.
Yakni tebu pringu yang sentra pengembangannya di Kecamatan Bululawang dan beberapa kecamatan lain.
Varietas tersebut sudah diresmikan sejak November 2023 lalu dan saat ini sedang dikembangkan.
Produksinya diperkirakan mencapai 1.000 kuintal per hektare atau 100 ton per hektare.
Rendemen varietas tersebut juga terhitung bagus.
Yakni mencapai 12,15 persen.
Artinya, dari 100 kilogram tebu dapat menghasilkan 12,15 kilogram gula. (yun/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana