Gencar Sosialisasi Meminimalkan Risiko
KEPANJEN - Kabupaten Malang merupakan salah satu daerah yang kerap dilanda gempa bumi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas III Malang mencatat, rata-rata ada 20-30 kali gempa bumi dalam setiap bulan.
Untuk mengantisipasi risiko jika terjadi bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang gencar menggelar sosialisasi dan edukasi.
Hal tersebut untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap risiko gempa bumi.
“Salah satu kegiatannya yakni sosialisasi di aula SMAN 1 Sumberpucung beberapa waktu lalu,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Malang Zainuddin Jumat lalu (3/1).
Selain sosialisasi dan edukasi, juga dibentuk Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) di tingkat desa.
Tugas mereka adalah kesiapsiagaan jika sewaktu-waktu terjadi bencana.
Dari total 378 desa di Kabupaten Malang, hingga kini sudah terbentuk 106 forum.
Salah satunya di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan.
Masing-masing FPRB beranggotakan 25-30 personel.
Mereka diberi pemahaman terkait kebencanaan sekaligus simulasi, utamanya terkait pertolongan pertama.
Kabupaten Malang juga telah dilengkapi dengan empat Early Warning System (EWS).
Itu dipasang di Pantai Balekambang, Pantai Ngliyep, Pantai Tamban, dan Pantai Panjang.
“EWS di Balekambang dan Ngliyep sudah terhubung dengan aplikasi yang memungkinkan pemantauan kondisi secara real-time,” kata Udin.
Pihaknya secara rutin melakukan pemantauan dan pendataan dampak gempa bumi.
Misalnya, setelah gempa berkekuatan 4,9 skala richer (SR) pada 13 Agustus 2024 lalu,
BPBD memastikan tidak ada kerusakan dan korban jiwa.
Serta melakukan pemantauan sebagai bentuk kesiapsiagaan terhadap potensi bencana alam.
Sementara pada 2024 lalu, BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang mencatat 4.785 gempa bumi di Provinsi Jawa Timur.
Dari ribuan gempa tersebut, sudah tercatat 327 gempa bumi yang terjadi di Malang Raya.
Terakhir, pada Desember 2024, terjadi 18 gempa bumi.
Di tempat yang lain, Kepala BMKG Stasiun Geofisika Stasiun III Malang Mamuri menjelaskan, gempa yang berpusat di Malang tersebut sebagian besar terjadi di laut selatan Malang.
“Gempa-gempa itu rata-rata memiliki magnitudo (kekuatan) di bawah 5 Skala Richter (SR),” ujar nya beberapa waktu lalu.
Mamuri menjelaskan, gempa bumi tersebut tercatat melalui sensor.
BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang memiliki sekitar 20 sensor.
Tiga sensor diantaranya berada di Kabupaten Malang.
Yakni Malang Jawa Indonesia (MLJI), Gedangan Jawa Indonesia (GEJI), dan Poncokusumo Jawa Indonesia (POKJI).
Kemudian yang terdekat yaitu Klakah Lumajang Jawa Indonesia (KLJI).
“Getaran tanah bisa dikatakan gempa ketika enam sensor yang saling berdekatan tersebut sama sama mendeteksi gempa. Kalau hanya satu, bisa saja hanya ada truk lewat atau sejenisnya,” kata dia.
Sama seperti BPBD, BMKG juga melakukan berbagai antisipasi.
Salah satunya melalui BMKG Goes to School.
Melalui kegiatan tersebut, BMKG akan memberikan penjelasan kepada siswa-siswi supaya bersiap jika terjadi gempa bumi. (yun/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana