KEPANJEN - Alpukat pameling menjadi salah satu produk khas Kabupaten Malang.
Berat satu buahnya minimal 0,5 kilogram.
Jika hasil panen maksimal, bobotnya bisa mencapai 2 kilogram per buah.
Baca Juga: Program Klasterku Hidupku BRI Berhasil Berdayakan Petani Alpukat di Probolinggo, Intip Kisahnya!
Oleh karena itu, buah tersebut laris di pasaran.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang Avicenna Medisica Sani Putera mengatakan, total lahan untuk budidaya alpukat pameling mencapai 300 hektare.
Itu tersebar di Kecamatan Lawang, Pujon, Ngantang, Kalipare, Turen, dan Wajak.
Baca Juga: Berkat Program Pemberdayaan BRI Klasterku Hidupku, Petani Ini Berhasil Kembangkan Budidaya Alpukat
“Diperkirakan tahun depan mulai panen alpukat pameling dari lahan tersebut,” ujar Avi beberapa waktu lalu.
Dia menyebut, per hektare lahan berisi sekitar 900 pohon alpukat pameling.
Masing-masing pohon bisa menghasilkan sekitar 1 kuintal buah alpukat pameling.
Sehingga jika semua pohon panen tahun depan, maka potensi produksinya bisa mencapai sekitar 27 ribu ton.
“Alpukat itu tidak hanya dijual dalam bentuk buah segar. Tetapi juga dalam bentuk frozen,” ucap pejabat eselon II B Pemkab Malang itu.
Sehingga produksi alpukat pameling tersebut sudah mampu menyuplai industri kuliner di Malang Raya.
Bahkan, para petani alpukat pun sedang persiapan untuk ekspor.
Sanari, salah satu petani alpukat pameling di Desa Wonorejo, Kecamatan Lawang menyebut, pada umumnya alpukat memiliki berat sekitar 200 gram per buah.
Sedangkan alpukat pameling lebih berat, yakni sekitar 500 gram per buah, bahkan bisa sampai hampir 2 kilogram per buah.
“Biasanya kami akan memasarkan produk melalui tengkulak. Dari tengkulak, dikirim ke Surabaya, Jakarta, hingga Kalimantan,” kata Sanari.
Harganya pun masih kompetitif.
Yakni sekitar Rp 30.000 hingga Rp 35.000 per kilogram dari petani.
Sedangkan jika di pasar mencapai Rp 50.000 per kilogram.
Sanari memiliki sekitar 10 pohon di sekitar rumahnya.
Untuk penanamannya, masing-masing pohon diberi jarak 8 meter.
Sebab tidak seperti alpukat pada umumnya yang semakin tumbuh meninggi, alpukat pameling justru tumbuh menyamping.
Sehingga memakan banyak tempat.
“Ketika umur tiga tahun, bahkan sudah harus dilakukan pruning (pemangkasan). Jika tidak, petani yang akan kesulitan,” pungkasnya. (yun/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana