WAJAK - Anggrek semakin digemari.
Hal itu terlihat dari tingginya peminat.
Itulah yang dirasakan pemilik Gubug Anggrek di Desa Bambang, Kecamatan Wajak.
Omzet penjualannya menembus Rp 5 juta.
Pemilik Gubug Anggrek Muhammad Aji Pamungkas memaparkan, terdapat tiga jenis anggrek yang paling diminati.
Yakni anggrek vanda, anggrek bulan, dan dendrobium.
“Di antara tiga jenis anggrek tersebut, dendrobium yang paling banyak diminati. Karena bunganya terlihat besar dan awet,” ujar Pamungkas beberapa waktu lalu.
Pria berusia 27 tahun itu menyebut, di tempat budidayanya terdapat sekitar 500 koleksi anggrek.
Mulai dari tiga jenis yang paling diminati hingga paphiopedilum atau anggrek sandal venus.
Selain itu, ada juga anggrek pteroceras pallidum yang identik dengan ukuran bunganya yang sangat kecil.
Selain berasal dari hutan di kawasan Semeru, anggrek koleksinya juga berasal dari berbagai pulau di Indonesia.
Seperti Sumatera dan Kalimantan.
Ada juga yang berasal dari mancanegara seperti Meksiko, Brazil, Tiongkok, dan India.
Dia menyebut, anggrek tidak memerlukan perawatan khusus.
Cukup disiram sekali dalam sehari.
Anggrek tersebut ditanam di dalam green house berukuran panjang 10 meter dan lebar sekitar 5 meter.
“Kalau mendung seperti ini cukup disiram sekali dalam tiga hari,” kata dia.
Sedangkan untuk pemasaran, sudah ke seluruh Indonesia.
Dia memasarkan anggreknya secara daring.
Mulai dari media sosial (medsos) hingga marketplace.
Dengan demikian, semakin banyak pembeli yang mengetahui produk-produknya.
”Biasanya kalau untuk dijual, banyak yang memilih anggrek usia muda (10-11 bulan) dan remaja (12) tahun,” ucap pria yang sudah menggemari anggrek sejak SMP tersebut. (yun/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana