SUMBERPUCUNG - Peternak domba di Desa Sambigede, Kecamatan Sumberpucung kesulitan mendapatkan bibit unggul.
Padahal, bibit unggul diperlukan untuk meningkatkan efisiensi dan keuntungan peternakan.
Sebab dengan bibit unggul, pertumbuhan domba lebih cepat.
Karjiadi Sucipto, salah satu peternak di Desa Sambigede mengatakan, selama ini bibit domba yang digunakan masih jenis lokal.
Sehingga kualitas keturunannya pun stagnan.
“Kami berharap dapat bantuan dari bupati berupa bibit domba domba yang kualitasnya lebih baik,” ujarnya.
Untuk diketahui, terdapat beberapa jenis bibit domba yang unggul.
Misalnya domba Garut yang cocok untuk adu ketangkasan dan penghasil daging.
Kemudian domba texel yang produksi dagingnya lebih unggul dan pertumbuhannya lebih cepat.
Domba merino dikenal karena kualitas bulunya.
Serta domba dorper yang memiliki produktivitas tinggi dan adaptasi baik di berbagai lingkungan.
“Kalau bibitnya unggul kan bisa memperbaiki keturunan sekaligus meningkatkan pendapatan kami,” kata Sucipto.
Selain bibit, dia juga kesulitan pakan, utamanya saat kemarau.
Pakan dari tanaman hijau cukup sulit.
Pengairan untuk tanamannya di lahan kurang produktif pun tidak tumbuh dengan baik karena kesulitan pengairan.
Alternatifnya, dia inisiatif memanfaatkan limbah pertanian seperti kulit jagung.
“Saat ini kami memiliki 63 ekor domba dengan harga jual sampai Rp 2,5 juta per ekor,” kata dia.
Sedangkan untuk kambing anakan dijual mulai Rp 900 ribu sampai Rp 1,2 juta.
Pemasarannya masih ke pasar-pasar tradisional di Bumi Arema.
Jika ingin memilih, pembeli pun bisa langsung datang ke kandang.
Karena itu, untuk memaksimalkan penasaran, pihaknya ingin menjalin kemitraan dengan supplier.
Terpisah, Bupati Malang H M. Sanusi mengatakan, pihaknya akan berupaya memberi bantuan peningkatan budidaya.
Terutama bagi petani maupun peternak yang berpotensi meningkatkan ekonomi kerakyatan, seperti peternakan domba.
“Dinas yang bersangkutan kami beri anggaran untuk membantu program kegiatan di masyarakat. Kalau untuk domba ini nanti di handle dinas peternakan dan kesehatan hewan (DPKH). Secara teknis nanti dikembangkan pada 2026,” kata Sanusi. (yun/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana