BULULAWANG – Musim hujan menjadi tantangan tersendiri bagi petani durian.
Salah satu risikonya, rasa durian menjadi hambar setiap musim hujan tiba.
Penurunan kualitas rasa membuat petani durian terancam rugi.
“Produksinya memang tidak terpengaruh. Hasil buahnya juga besar, tetapi rasanya kurang maksimal. Ada beberapa buah yang seperti itu di kebun kami,” ujar Pengelola Wisata Petik Durian Desa Sudimoro Firman Ferdiansyah kemarin.
Untuk mengatasinya, begitu membuka durian, pihaknya akan memberikan tester terlebih dahulu.
Jika pembeli merasa cocok dengan rasanya, baru bisa dibeli satu buah.
Akan tetapi jika tidak cocok, durian akan diganti sampai pembeli merasa cocok.
“Dengan begitu, kami harapkan tidak mengurangi jumlah konsumen,” ucapnya.
Sebab, konsumen percaya dengan kualitas durian yang dijual olehnya.
Apalagi, durian yang dijual pun masak pohon.
Selain itu, untuk meningkatkan kualitas durian, perawatannya pun cukup ekstra.
Mulai dari nutrisi, vitamin, dan pupuk sangat diperhatikan.
Pupuknya menggunakan campuran pupuk organik dan kimia.
“Pemangkasan dahan dan pembersihan rumput juga harus rutin, termasuk penyiraman. Sebab, terlalu banyak air yang disiramkan juga tidak bagus untuk kualitas durian,” imbuh Firman.
Sebagai informasi, di lahan dengan luas sekitar 1,5 hektare itu terdapat 200-an pohon durian dengan lima varian.
Yakni musang king, bawor, duri hitam, montong, dan pelangi.
Rata-rata, per pohon terdapat 1525 buah dengan berat 2,53 kilogram.
Harga masing-masing jenis bervariasi.
Seperti musang king dibanderol Rp 350 ribu per kilogram, montong Rp 100 ribu per kilogram, dan bawor Rp 250 ribu per kilogram.
Sebagai wisata petik durian, selain membeli buahnya langsung, pengunjung juga bisa menikmati durian langsung di bawah pohonnya.
”Sejauh ini, durian musang king yang menjadi favorit pengunjung,” pungkasnya. (yun/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana