WAGIR - Bisnis peternakan ayam jantan bukan ras (buras) bisa dibilang menjanjikan.
Dari segi gizi, ayam jantan lebih sehat untuk dikonsumsi.
Oleh karena itu, ayam tersebut lebih banyak diminati meskipun harganya lebih mahal.
Seorang peternak ayam di Desa Jedong, Kecamatan Wagir mengais omzet Rp 60 juta per musim.
”Per musim itu satu kali panen. Ya sekitar 60 hari,” ujar Afrijal Mahkbub Efendi, peternak ayam Jantan Pitikologi di Desa Jedong kemarin.
Dia mengatakan, ayam jantan miliknya bisa dipanen ketika umur 60 hari.
“Pada usia itu, ayam biasanya memiliki berat 1 kilogram. Ada tengkulak yang mau mengambil saat beratnya segitu. Tapi ada juga yang mau mengambil ayam meski beratnya baru 7 ons atau 8 ons,” ucap pria berusia 30 tahun itu. Selain tengkulak, dia mengatakan, ayam juga dipasarkan kepada individu maupun mitra kerja. Penjualan secara daring melalui media sosial (medsos) pun dilakukan untuk memperluas pasar”
Ayam tersebut dijual saat masih hidup.
Per kilogramnya dibanderol Rp 32 ribu sampai Rp 34 ribu.
Jauh lebih mahal dibanding ayam broiler yang biasanya seharga Rp 18 ribu sampai Rp 20 ribu per kilogram.
“Omzet per bulan ya tergantung kapasitas. Kalau sekarang, populasi kami ada 2.000 ekor. Jadi kemungkinan omzetnya bisa Rp 60 juta saat panen,” kata alumni Universitas Brawijaya (UB) itu.
Untuk diketahui, kandungan gizi ayam jantan lebih bagus dibanding ayam broiler.
Sebagai contoh, ayam jantan buras lebih rendah lemak dan kalori dibandingkan dengan ayam broiler.
Proteinnya juga lebih tinggi.
Hal itu ditunjukkan dengan dagingnya yang lebih kenyal dan berserat.
Karena itu, salah satu segmen pasar ayam jantan buras yakni orang yang menerapkan gaya hidup sehat.
Dia mengatakan, perawatan ayam jantan buras sama dengan ayam broiler.
Namun, limbah dari peternakan dengan dua bangunan berukuran 12x14 meter itu tidak berbau.
Sebab, makanan yang diberikan kepada ternak telah terdapat campuran asam sitrat.
Sehingga tidak mengganggu tetangga. (yun/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana