KABUPATEN- Setahun belakangan, situs Sekaran di Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis telah bertransformasi jadi tempat wisata terintegrasi.
Selain situs peninggalan Kerajaan Majapahit, di sana juga ada beberapa spot untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus tempat wisata.
Seperti greenhouse melon intanon dan kolam ikan.
”Kalau hari biasa memang sepi. Kalau Sabtu malam dan Minggu biasanya ramai orang memancing,” kata Siatin, salah satu warga Desa Sekarpuro.
Untuk diketahui, situs tersebut ditemukan pada 2019 lalu.
Tepatnya saat proses pembangunan Jalan Tol Malang-Pandaan berlangsung.
Di area wisata situs Sekaran kini ada kolam lele yang letaknya dekat lahan persawahan.
Ukurannya sekitar 20 meter persegi.
Di dalamnya ada sekitar 10 ribu ekor ikan.
Saat panen, akan dibagikan untuk anak anak di desa sebagai upaya pencegahan stunting.
Di kawasan itu juga ada greenhouse yang membudidayakan melon intanon.
Pengelolanya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mitra Sekar Makmur, Desa Sekarpuro.
Melon yang dibudidayakan di dalam greenhouse tersebut bisa mencatatkan panen hingga enam kuintal per musimnya.
Roni Versal, Pendamping Budidaya Melon Intanon menjelaskan, hasil panen tersebut diperoleh dari 600 tanaman.
Ditanam di greenhouse dengan luas sekitar 150 meter persegi.
”Setiap panen, satu buahnya memiliki berat 1,5 sampai 2 kilogram,” ujar Roni.
Melon tersebut ditanam menggunakan sistem hidroponik.
Pengairannya menggunakan Nutrient Film Technique (NFT).
Yakni metode hidroponik yang menggunakan pompa untuk mengalirkan larutan nutrisi secara terus menerus ke akar tanaman.
Dengan NFT, tanaman dapat memperoleh nutrisi, air, dan oksigen secara bersamaan.
”Kunci melon itu ada dua. Suplai airnya harus tinggi sama panas mataharinya harus maksimal.
Kalau di sini suplai mataharinya cukup bagus,” kata Roni.
Melalui metode hidroponik, pertumbuhan melon tidak akan bergantung pada hujan. Sebab sudah terlindungi.
Selain itu, nutrisi untuk tanaman juga dapat dikontrol.
Termasuk tingkat kemanisannya. (yun/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana