Usaha terus menerus dari Komunitas Arek-Arek Lawang (Arela) akhirnya membuahkan hasil. Setelah dua tahun berjuang, Pemkab Malang lewat Dinas Pekerjaan Umum dan Bina Marga (DPUBM) akhirnya ”turun gunung” ikut menambal jalan. Kegiatan sosial mereka bakal berlanjut
NAHDIATUL AFFANDIAH
LUBANG jalan di flyover Lawang mulai muncul sejak Desember 2022.
Diameter dan kedalamannya bervariasi.
Ada yang diameternya mencapai 50 sentimeter.
Sementara kedalamannya mulai dari lima sampai 10 sentimeter.
Tak ada penanganan sampai awal tahun ini, sejumlah pemuda di Kecamatan Lawang mulai geram.
Sebab, berkali-kali mereka harus menyaksikan adanya pengendara yang terjatuh.
Mereka yang tergabung dalam Komunitas Arek-Arek Lawang (Arela) awalnya mengeluhkan problem itu kepada petinggi di Kecamatan Lawang.
Mulai dari Camat hingga anggota DPRD terpilih.
Tujuannya hanya satu, agar lubang jalan segera ditambal.
Namun upaya itu tetap nihil hasil.
Pihak yang dilapori selalu melempar-lempar laporan Arela dengan dalih flyover Lawang adalah jalan Nasional yang dikomandoi Kementerian PUPR.
Tak ingin berpangku tangan, mereka penambalan lubang jalan secara mandiri.
Pertama kali dilakukan pada 7 Desember 2022.
Saat itu mereka mengumpulkan uang dari 15 pengurus komunitas dan 123 ribu member di Facebook.
Uang yang terkumpul dipakai biaya operasional komunitas, termasuk membeli bahan cor untuk menambal jalan.
Ternyata, pada 24 Januari 2024, jalan di flyover Lawang kembali berlubang.
Mereka kembali mengandalkan uang patungan anggota Arela untuk menutup lubang yang ada dengan semen cor.
Namun, lagi-lagi pada 16 Februari terdapat lubang-lubang jalan d titik lain.
Itu terus berlanjut hingga puncaknya pada 5 Desember 2024.
”Tiap penambalan kami menghabiskan dana mulai Rp 700 ribu hingga Rp 2 juta,” ujar Bastian Nova Pratama, Koordinator Arela saat ditemui di kediamannya, kemarin (11/2).
Terhitung sejak 2022, sudah ada puluhan korban luka karena kecelakaan tunggal di flyover Lawang.
Sisanya ada dua korban meninggal karena tergelincir saat terkena lubang jalan di sana.
Total sudah lebih dari Rp 5 juta yang dikeluarkan Arela untuk menambal jalan.
Sadar kebutuhan komunitas untuk itu semakin banyak, mereka kemudian memutar otak untuk menggandakan uang sumbangan dari anggota komunitas.
Pada bulan Mei 2024, mereka mulai mendirikan toko parfum bernama Arela Aromatic.
Seluruh modalnya murni dari sumbangan anggota.
Setelah mereka terus menerus mendesak pemerintah, akhirnya Dinas Pekerjaan Umum dan Bina Marga (DPUBM) Kabupaten Malang bersedia menambal.
Itu pun setelah sebelumnya Arela mulai menandai lubang jalan dengan phylox berwarna putih pada 5 Januari 2025 lalu dan menyebarkannya di media sosial.
Lalu pada 30 Januari, Arela bersama DPUBM Kabupaten Malang bersama-sama menambal lubang jalan dengan aspal.
Malam itu, Arela sudah bersiap di dekat flyover Lawang dengan bahan-bahan penambal jalan.
Berjaga-jaga apabila DPUBM Kabupaten Malang tidak jadi hadir.
Setelah menunggu beberapa saat dan tak ada tanda-tanda kehadiran pemkab, Arela mulai bergerak menambal jalan.
Baru dapat satu lubang yang tertutupi, pihak DPUBM akhirnya datang dan kedua pihak bersama-sama menambal jalan Ke depan, mereka berharap jalan berlubang di flyover Lawang tidak hanya ditambal sulam oleh pemerintah.
Namun juga mendapat perbaikan menyeluruh berupa pengaspalan ulang.
Sebab kondisi flyover sudah waktunya perbaikan.
Saat hujan, aspal pada flyover sering tergenang yang menyebabkan aspal tidak berumur panjang.
Komunitas yang terbentuk sejak tahun 2009 melalui grup Facebook itu sadar perannya semakin dibutuhkan masyarakat Lawang.
Mereka mulai terjun di kegiatan sosial untuk membantu masyarakat sejak 2018.
Kegiatannya cukup beragam, seperti menambal lubang jalan, menolong korban kecelakaan, hingga mengevakuasi lansia atau Orang Dengan Gangguang Jiwa (ODGJ).
Kini mereka mulai menyiapkan diri untuk memiliki ambulans sendiri.
”Beberapa perusahaan butuh yayasan legal yang bisa dipercaya mengelola ambulans itu, jadi kami daftarkan secara hukum bernama yayasan Arela,” lanjut Bastian.
Pada Juli 2024, Yayasan Arela mendapat izin dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).
Selain fokus pada kegiatan sosial, Arela mulai mengembangkan diri agar bisa mengemban amanah lebih besar.
Kini mereka sedang mengumpulkan uang dan mencari relawan yang bersedia memberi sumbangan ambulans untuk mereka agar kegiatan sosialnya lebih optimal. (*/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana