KEPANJEN – Belakangan, banyak ular yang masuk ke rumah-rumah warga.
Berdasar data tim Pemadam kebakaran (Damkar) Kabupaten Malang, sepanjang Januari lalu ada 22 panggilan evakuasi ular dari rumah warga.
Jika setiap panggilan ada satu ular yang harus dievakuasi, berarti ada 22 ular yang masuk rumah warga.
Kemudian khusus Februari sudah ada delapan panggilan evakuasi ular.
”Kebanyakan itu ular-ular seperti ular sawah, ular weling, dan ular kobra,” ujar Komandan Peleton (Danton) Damkar Satpol PP Kabupaten Malang Syaiful Anwar kemarin.
Laporan terbaru diterima pada Kamis malam (13/2).
Saat itu pihaknya menerima laporan ada ular piton sepanjang 2,5 meter rumah warga Desa Karangduren, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang.
Setelah menerima laporan, dia menerjunkan tim untuk mengevakuasi.
”Pertama kali terlihat, ular itu masuk dari dapur. Kemungkinan masuk dari sungai belakang rumah, yang merupakan aliran sungai brantas,” kata Syaiful.
Informasi yang diterima tim damkar dari pemilik rumah, ular jenis piton berada tumpukan-tumpukan kayu di salah satu ruangan.
Karena takut, pemilik rumah tidak berani mengusir.
Mereka lantas menghubungi damkar agar menerjunkan tim evakuasi.
”Hanya butuh waktu beberapa menit untuk petugas mengevakuasi ular besar tersebut. Dalam waktu dekat akan dilepas liarkan,” katanya.
Sebelumnya, 11 Februari lalu, pihaknya menerima laporan ular weling masuk rumah warga Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau.
Ular dengan ukuran panjang 30 sentimeter tersebut diketahui berada di langit-langit rumah saat dievakuasi.
Rata-rata, laporan adanya ular masuk rumah berasal dari kawasan-kawasan perumahan yang dekat dengan sawah dan sungai.
Tapi ada juga yang berasal dari pohon besar di pekarangan rumah.
”Itu biasanya ranting pohon menyentuh atap atau bangunan rumah. Dari sana ular bisa masuk rumah,” kata Syaiful.
Dia mengatakan, musim hujan seperti memang rawan ular masuk ke rumah warga.
Terutama untuk mencari makan.
Oleh karena itu, pihaknya mengimbau warga untuk menutup lubang-lubang di dalam rumah yang sekiranya berpotensi jadi akses masuk ular.
Sebab, beberapa di antara ular yang dia evakuasi tergolong berbisa, sehingga mengancam keselamatan penghuni rumah.
Setiap mengevakuasi ular, pihaknya sering kali melepas ke habitatnya.
”Ular sawah atau yang tidak berbisa ya kami lepas di sawah-sawah. Tujuannya agar ular tersebut memakan hama tikus,” katanya.
”Tapi kalau ular berbisa, kami cari tempat seperti sungai yang jauh dari permukiman warga. Sedangkan ular besar seperti piton kami titipkan ke teman pencinta alam untuk dilepas di hutan hutan jauh seperti lereng Gunung Arjuno,” kata dia. (biy/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana