PAKISAJI – PG Kebon Agung mengirim 12 petani mitra ke Vietnam.
Mereka berada di negeri Naga Biru tersebut selama delapan hari, yakni 10-17 Februari lalu.
Keberadaan petani mitra di sana untuk menimba ilmu budi daya tebu di tiga pabrik gula terbesar di Vietnam, yakni PG VietDai, PG Son La, serta PG Sonsuco.
Ke 12 petani mitra tersebut antusias mendengarkan seluruh pemaparan dari manajemen tiga PG Vietnam.
Setelah itu, mereka diberi kesempatan untuk melihat-lihat mesin penggilingan.
Selain itu, para karyawan PG Kebon Agung juga terjun langsung ke lahan tebu milik petani Vietnam.
Vietnam dipilih sebagai lokasi studi banding karena negara tersebut baru saja menempati urutan teratas produktivitas industri gula.
Yaitu pada musim tanam tebu tahun 2023 hingga 2024.
Hasil panen tebu Vietnam mencapai 6,97 ton per hektare.
”Produktivitasnya melebihi negara industri gula seperti Thailand, Indonesia, dan Filipina,” ujar Kepala Divisi Tanaman dan Sumber Daya Manusia PT Kebon Agung Sukirno, kemarin (20/2).
Sukirno mengatakan, terdapat empat poin budi daya gula di Vietnam yang bisa diterapkan di Indonesia.
Pertama, tanaman tebu di Vietnam memiliki masa maksimal tiga tahun.
Setelah panen, lahan akan dibongkar dan diolah lagi sebelum ditanami bibit baru (plant cane). Sementara di Indonesia, selama ini pembongkarannya terlalu lama.
Untuk itu, Sukirno memprediksikan rumus tersebut bisa dijadikan peluang peningkatan produktivitas tebu di Indonesia.
Sedangkan poin kedua, PG Kebon Agung menyoroti pembatasan pemakaian pupuk nitrogen di kalangan petani Vietnam.
Hal tersebut bertujuan menjaga orientasi bobot tebu.
Pemupukan tebu yang baik seharusnya menggunakan pupuk majemuk dengan unsur lengkap NPK dan ZA sesuai rekomendasi PG.
“Poin ketiga, kami mengusahakan semaksimal mungkin masa tanam tidak menggantungkan musim hujan,” lanjut Sukirno.
Terutama untuk daerah yang memiliki sumber irigasi teknis seperti embung atau sungai.
Poin terakhir, dia mengatakan, masa panen di Vietnam terjadi di musim dingin tanpa hujan.
Untuk itu, PG di Pulau Jawa harus mempertimbangkan awal gilingan agar tingkat kemasakan tebu dan jumlahnya layak. (aff/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana