BANTUR - Para pegiat pariwisata menanam 125 pohon mangrove di Pantai Sugu, Desa Sumberbening, Kecamatan Bantur kemarin (23/2).
Dalam menjalankan aksinya, pegiat pariwisata yang tergabung dalam relawan Sandiuno tersebut menggandeng Perum Perhutani KPH Malang.
Selain mencegah abrasi, penanaman mangrove juga untuk mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Pilih pantai Sugu sebagai lokasi penanaman mangrove karena kondisi geografis ideal.
Misalnya pantai berpasir dan banyak digenangi air.
Aksi penanaman melibatkan 120 personel.
Dalam waktu tiga jam, 125 pohon mangrove sudah selesai ditanam.
Penanaman sengaja diberi jarak tertentu antar pohon agar penjagaan mangrove terhadap potensi abrasi semakin maksimal.
”Selain karena bentuk kepedulian kami terhadap lingkungan. Kami juga bermaksud menumbuhkan pariwisata hijau,” ujar Ketua Tim Relawan Sandiuno Dwi Juniarto seusai menanam mangrove kemarin.
Dia mengatakan, timnya merupakan perpanjangan tangan dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar) untuk ikut melanjutkan program wisata yang ramah lingkungan.
Untuk itu, penanganannya diwujudkan dalam aksi nyata penanaman pohon mangrove.
”Kegiatan sosial ini juga bentuk pengabdian kami kepada masyarakat pesisir. Khususnya di area destinasi wisata yang rawan terkena abrasi pantai. Apalagi Indonesia memiliki salah satu hutan mangrove terbesar di dunia,” kata dia.
Sebagai informasi, pohon mangrove berperan penting dalam mencegah abrasi, menyerap karbon, dan menjaga kualitas lingkungan pesisir.
Harapannya, sekitar 125 pohon mangrove yang ditanam akan tumbuh dan bisa membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
“Untuk itu kami melibatkan 120 personel dari Perhutani, relawan, dan warga sekitar,” pungkas Juniarto.
Wakil Administratur Perum Perhutani KPH Malang Soekirno merespons positif aksi penanaman mangrove di Pantai Sugu, Desa Sumberbening, Kecamatan Bantur.
Menurut dia, jumlah pohon di pantai masih terbatas, sehingga perlu tambahan lagi.
Pihaknya berharap aksi kepedulian lingkungan ini tidak berhenti, tapi terus berlanjut di lokasi lain.
“Setelah ditanam, tentunya lebih baik ada pemeliharaan bersama juga,” kata Soekirno. (aff/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana