KEPANJEN – Buma Arema berkali-kali digoyang gempa. Terhitung sejak Januari hingga awal Maret ini tercatat 39 kali kejadian gempa di Malang. Data tersebut hasil catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang.
”20 kali kejadian pada Januari, 17 kejadian pada bulan Februari, serta 2 kali di bulan Maret,” ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (KL) BPBD Kabupaten Malang Sadono Irawan kemarin.
Semuanya tergolong gempa tektonik yang terjadi akibat pergesekan lempeng Eurasia dan Indo-Australia. Akan tetapi selama 65 hari tidak ada getaran yang terasa. BPBD Kabupaten Malangjuga tidak mendapat laporan adanya rumah atau bangunan rusak akibat gempa.
Sadono mengatakan, gempa-gempa yang terdeteksi tersebut tergolong berkekuatan kecil. Rentang 2,6 sampai 4,1 skala richter (SR). Selain itu, dia mengatakan, tidak ada pergesekan lempeng atau patahan sesar di atas daratan. “Semuanya terjadi di laut. Kebanyakan tergolong dangkal tapi tetap tidak terasa di daratan,” imbuh Sadono.
Artinya, area yang rawan gempa adalah sebagian besar wilayah Malang selatan, terlebih yang bersentuhan langsung dengan bibir pantai. Seperti Donomulyo, Bantur, Gedangan, Sumbermanjing Wetan (Sumawe), Tirtoyudo, dan Ampelgading.
Selama waktu yang lama, Kabupaten Malang tidak diguncang gempa besar. Kecuali pada April 2021 lalu. Gempa tektonik berskala 6,1 skala richter mengguncang pantai Malang selatan. Imbasnya, 696 rumah warga rusak. Kerusakan juga menimpa 14 sekolah, 8 fasilitas kesehatan (faskes), 26 tempat ibadah, dan 6 jembatan.
Meski tergolong jarang, gempa besar bisa saja terjadi di Kabupaten Malang. Dengan jumlah kejadian di atas, Sadono menyebut potensi kejadian gempa sangat besar. Oleh karena itu, pihaknya mengimbau masyarakat agar tetap waspada sekaligus meminimalkan dampak kerusakan. “Bisa diminimalkan apabila masyarakat melakukan kaidah-kaidah teknis rumah yang tahan gempa dan konstruksinya sesuai. Di permukiman, dampak kerusakan bisa sangat terasa di sana,” tandas dia. (biy/dan)
Editor : A. Nugroho