PAKISAJI - Greenhouse jadi salah satu sarana budi daya tanaman pangan yang diandalkan masyarakat.
Sebab, waktu produksinya tidak tergantung cuaca.
Panennya bisa lebih cepat.
Itulah yang dialami BUMDes Cinde Wilis di Desa Pakisaji dalam mengembangkan melon golden intanon.
Direktur Utama (Dirut) BUMDes Cinde Wilis Yusak Mahardika mengatakan, terdapat tiga greenhouse yang masing-masing ditanami 221 pohon.
Per pohon hanya ada satu buah.
“Kami tidak mengembangkan lebih dari satu buah per pohon untuk menjaga mutu buahnya,” ujar Yusak ditemui kemarin (9/3).
Satu buahnya rata-rata memiliki berat 2 kilogram.
Harganya dibanderol Rp 23.000 per kilogram.
Dengan demikian, jika diasumsikan setiap pohon ada satu buah dengan berat masing masing 2 kilogram, maka omzet panen tersebut mencapai Rp 30 juta.
Selain untuk biaya pekerja dan operasional, 10 persen dari hasil tersebut dimanfaatkan untuk penurunan stunting.
Sementara itu, dibandingkan dengan melon biasa, melon intanon itu bisa disebut melon premium.
Sebab, tingkat kemanisannya lebih tinggi.
Hal tersebut dibuktikan menggunakan brix refractometer.
Jika melon biasa tingkat kemanisan berkisar 12 persen, melon intanon ini 15 persen.
“Buahnya juga lebih awet. Kalau masih belum dikupas, bisa awet sampai satu bulan,” kata Yusak.
Harga di pasaran pun ber beda.
Jika melon biasa berkisar Rp 15.000 sampai Rp 17.000 per kilogram, melon intanon lebih dari Rp 20.000 per kilogram.
Padahal perawatannya sama.
Yakni dengan penyiraman rutin dan pemupukan sebanyak tiga kali.
Pemupukan dilakukan saat fase generatif, pembuahan, dan terakhir untuk pemberian rasa manis.
Sebagai informasi, biasanya melon yang dikembangkan dengan metode konvensional baru bisa panen dalam tiga bulan.
Sedangkan melon yang dikembangkan di dalam greenhouse cukup butuh 66 hari.
Sehingga pemupukan dilakukan setiap 23 minggu sekali. (yun/dan)
Editor : A. Nugroho