WAGIR - Dua pekan lagi, umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi.
Perayaan tersebut identic dengan arak-arakan ogoh-ogoh yang kemudian dibakar sehari sebelum Nyepi.
Oleh karena itu, sejak beberapa pekan lalu umat Hindu sudah menyiapkan ogoh-ogoh.
Seperti yang dilakukan warga Dusun Jamuran, Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir. Kasir, salah satu warga Dusun Jamuran menyebut, pihaknya sudah mulai membuat ogoh-ogoh sejak 2 bulan lalu.
Diperkirakan, ogoh-ogoh tersebut tuntas dua pekan lagi.
Dia membuat ogoh-ogoh dengan tema matsarya yang artinya sifat serakah, dendam, dan iri hati.
“Matsarya ini salah satu sifat atau unsur dalam diri manusia yang harus dikendalikan supaya saat Nyepi, sifat-sifat buruk itu tidak muncul,” ujarnya kemarin.
Pria 40 tahun itu menyebut, untuk membuat ogoh-ogoh membutuhkan Rp 1,5 juta-Rp 1,7 juta.
Itu diperkirakan tanpa tenaga dan konsumsi.
Ukurannya pun cukup besar.
Yakni lebar 2 meter dan tinggi sekitar 3,5 meter.
Dia memaparkan, membuat ogoh-ogoh tentu ada kesulitan.
Utamanya bagian anatomi tubuhnya.
Seperti detail tangan dan ekspresi wajah.
Hal tersebut juga disampaikan Riko Prasetyo, salah satu perajin asal Dusun Jamuran.
Dia mengatakan, membentuk bagian-bagian tubuh seperti otot dan mata menjadi tantangan tersendiri.
Apalagi ukuran ogoh-ogoh bisa dibilang cukup besar.
Riko dan teman-temannya membutuhkan waktu sekitar sebulan untuk membuat ogoh-ogoh itu. Ini sudah pekan ketiga.
Baca Juga: Sambut Ramadhan 2025: 4 Rekomendasi Toko Baju Muslim di Malang untuk Tampil Modis di Hari Raya
Bahannya terbuat dari besi dan bambu untuk kerangka dan kertas.
Tingginya sekitar 3 meter.
“Saya dan teman-teman membuat dua ogoh-ogoh. Yaitu celuluk dan dadong guliang,” kata pria berusia 28 tahun itu.
Celuluk sejenis leak Bali dan dadong guliang merupakan nenek-nenek Bali yang memiliki sifat buruk.
Nantinya, ogoh-ogoh tersebut akan diarak pada upacara Tawur Kasanga.
Yakni satu hari sebelum perayaan Nyepi.
Dalam acara itu, biasanya umat Hindu akan mengarak ogoh-ogoh, kemudian membakarnya.
Dengan tujuan untuk menghilangkan sifat angkara murka atau keburukan dalam diri manusia. (yun/dan)
Editor : A. Nugroho