LAWANG – Setelah dinobatkan sebagai salah satu produk unggulan Kabupaten Malang, alpukat pameling akan terus dibudidayakan.
Bibit aslinya disediakan Pusat Alpukat Pameling Nasional di Desa Wonorejo, Kecamatan Lawang.
Di sanatersedia 75.000-100.000 bibit yang siap dikembangkan.
Teknisi Kebun Alpukat Willy Pameling Abdul Hafiz Iza Mahendra mengatakan, terdapat tiga jenis bibit yang dijual.
Yakni bibit standar yang berusia 12 bulan, medium 18 bulan, dan premium berusia 24 bulan.
“Perbedaannya ada di ukurannya. Bibit standar berukuran 50-70 sentimeter, medium berukuran 90-125 sentimeter, dan premium berukuran 170-230 sentimeter,” ujar Hafiz kemarin (24/3).
Biasanya, dia menyebut, bibit tersebut dijual lepas maupun paket budi daya.
Untuk paket budi daya, pembeli akan menerima bibit dan satu paket sarana produksi budi daya.
Rata-rata pembelinya berasal dari Malang Raya. Menurutnya, permintaan keduanya masih imbang.
“Kalau untuk harganya, bibit standar Rp 50 ribu, medium Rp 100 ribu, dan premium Rp 200 ribu,” ucap pria berusia 27 tahun itu.
Perawatannya juga menyesuaikan cuaca.
Selain pemupukan menggunakan pupuk NPK, dia melanjutkan, bibit alpukat juga membutuhkan pestisida.
Saat musim kemarau, dilakukan penyemprotan satu bulan sekali dan penyiraman dua hari sekali.
Sedangkan penanaman musim hujan, bisa sebulan dua kali tanpa penyiraman.
Budi daya bibit dilakukan menggunakan greenhouse. Sehingga tidak terkena hujan maupun sinar matahari secara langsung.
Namun karena terdampak angin kencang sekitar November-Desember lalu, greenhouse rusak.
“Pengaruhnya ke daun yang berwarna kuning. Namun secara kualitas alpukat, tidak terdampak,” katanya. (yun/dan)
Editor : A. Nugroho