Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Dinas Kesehatan Kabupaten Malang Temukan 26 Ibu Hamil Kena Hepatitis

Mahmudan • Minggu, 6 April 2025 | 03:45 WIB
Hepatitis di Kabupaten Malang
Hepatitis di Kabupaten Malang

Berpotensi Tularkan Penyakit ke Bayi

KEPANJEN - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang mengungkap 30 kasus hepatitis dalam tiga tahun.

Rinciannya, 26 kasus di antaranya dialami ibu hamil dan sisanya empat kasus menjangkiti kelompok berisiko.

Misalnya suami atau istri yang tertular dari pasangannya, pengguna napza suntik (penasun), hingga tenaga kesehatan.

Kelompok lain yang juga berisiko adalah para pelaku transgender, orang dengan HIV, dan gay.

“Sementara kami temukan hepatitis B saja. Untuk Hepatitis C masih nihil,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Malang, Tri Awignami Astoeti, kemarin.

Selain itu, dia mengatakan mayoritas pengidap hepatitis B adalah ibu-ibu.

Sebab terdapat program pengecekan penularan hepatitis B dari ibu ke anak.

“Mayoritas yang diperiksa saat ini adalah para ibu hamil,” terangnya.

Sebagian besar pasien yang dinyatakan mengidap hepatitis B tidak merasakan gejala yang signifikan.

Namun beberapa pasien juga ada yang merasakan gejala seperti kelelahan, kurangnya nafsu makan, mual, muntah, hingga demam.

Selain itu, beberapa pengidap hepatitis B juga merasakan urine berwarna lebih pekat.

Tetapi sebagian besar menunjukkan gejala kuning yang terlihat pada kulit dan mata, yang menandakan adanya kerusakan hati.

Awig menjelaskan, penyebab penyakit kronis cukup beragam.

Salah satunya dipicu oleh infeksi, yaitu bakteri, virus, dan parasit.

Ketiga faktor tersebut merupakan penyebab terbanyak.

Penyebab infeksi tersebut terutama karena virus Hepatitis B dan C.

“Ada juga penyebab hepatitis nonvirus berasal dari alkohol dan obat-obatan,” lanjut Awig.

Untuk diketahui, penyakit hepatitis bisa menular.

Terutama melalui kontak dengan darah penderita (parenteral).

Khusus kasus hepatitis B, penularan paling banyak terjadi secara vertikal (dari ibu pada bayi) dalam masa perinatal.

Untuk penularan secara horizontal dapat terjadi pada populasi berisiko seperti pasien HIV/AIDS, pasien infeksi menular seksual, atau wanita pekerja seks.

Selain itu, pada kasus seks sesama jenis, misalnya laki-laki dengan laki-laki, juga dapat berisiko tertular penyakit hepatitis.

Penularan lain juga bisa terjadi melalui keluarga yang menderita hepatitis, pasien hemodialisa (gagal ginjal), serta waria.

“Beruntung di Kabupaten Malang tidak sampai ada laporan kematian akibat hepatitis B,” lanjut Awig.

Saat ini perawatannya sudah maksimal.

Hanya saja, risiko penyakit paling fatal terjadi pada kerusakan hati ketika hepatitis semakin parah hingga mengarah pada kasus sirosis hati. (aff/dan)

Editor : A. Nugroho
#dinas kesehatan #hepatitis #Kabupaten Malang #virus #ibu hamil