KABUPATEN – Bulai depan memasuki musim giling 2025.
Pasokan tebu dari para petani ke pabrik gula, baik PG Krebet Baru maupun PG Kebon Agung diperkirakan akan bertambah.
Sebab, luas lahan tebu meningkat dibanding tahun sebelumnya.
Berdasar data Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang, luas lahan tebu di Bumi Kanjuruhan pada 2024 berkisar 44.825 hektare.
Kemudian tahun ini bertambah menjadi 47.016 hektare, sehingga luasnya bertambah 2.000 hektare lebih.
“Untuk itu kami estimasikan produksi tebu ikut meningkat hingga 4,2 juta ton,” ujar Kepala DTPHP Kabupaten Malang Avicenna Medisica Saniputera.
Meningkat 0,2 ton daripada tahun lalu yang memproduksi tebu 4 ton.
Penambahan luasan lahan tebu merata di sepuluh kecamatan, termasuk Bantur.
Pada 2024 lalu, Kecamatan Bantur menjadi penghasil tebu terbesar di Kabupaten Malang dengan produksi hingga 424.739 ton dari total luas lahan 4.741 hektare.
Kemudian diikuti oleh Dampit dengan produksi 379.366 ton dari luas lahan 4.234 hektare.
Diperkirakan tahun ini produksinya akan lebih besar.
Avicenna menuturkan, saat ini kondisi tebu di lapangan sudah mulai masak.
Rencananya akhir April sudah mulai masa panen.
Sebab pada awal Mei, dua PG terbesar di Kabupaten Malang mulai membuka gilingan.
“Kemungkinan besar panen serentak di akhir bulan April nanti,” lanjut Avicenna.
Dia mengatakan, tebu menjadi salah satu komoditas utama di Kabupaten Malang.
Namun pada cuaca yang tidak menentu seperti saat ini, dia melanjutkan, curah hujan yang ekstrem juga sedikit mengancam.
Apalagi hujan berlebihan bisa membuat genangan air, merusak akar tebu, serta menghambat penyerapan nutrisi.
Berdasar pantauan wartawan koran ini di beberapa lokasi lahan tebu di Kecamatan Kepanjen, Pakisaji, dan Pagelaran, beberapa tebu roboh tersapu angin. (aff/dan)
Editor : Aditya Novrian