KABUPATEN - Di Google Maps, letak bekas bangunan Stasiun Dampit tampak berada di antara dua jalan besar.
Di selatan ada Jalan Pajang.
Sementara di utara ada Jalan Semeru.
Kedua ruas tersebut berada di wilayah Kelurahan Dampit, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang.
Untuk melihat bekas bangunan secara langsung, harus melewati gang sempit di wilayah permukiman warga.
Dari pantauan Jawa Pos Radar Malang, bangunan utama stasiun yang dulu memiliki lima jalur itu sudah tidak utuh lagi.
Menyisakan rangka atap dari kayu ulin. Dinding bata khas bangunan kolonial juga terlihat.
Di bagian tengah, sudah ada empat rumah warga dan satu musala.
Termasuk area pintu masuk penumpang dan loket, yang sekarang sudah menjadi rumah dan garasi travel.
Tidak ada lagi jendela bekas tempat pembelian karcis penumpang.
”Rumah-rumah di sini baru ada tahun 1995,” kata Sumisto, warga sekitar.
Dalam memori pria berusia 65 tahun tersebut, dulu Stasiun Dampit merupakan tempat yang ramai.
Pada 1978, ada tiga pemberangkatan KA dari sana.
Yakni pada pukul 07.00, 12.00, dan 16.00.
Saat itu, mayoritas warga memanfaatkan kereta api (KA) untuk mengangkut hasil bumi.
Seperti kopi, kelapa, jagung, dan beragam jenis sayuran yang hendak dijual di Kota Malang.
Semua hasil bumi yang sudah dikemas dalam karung itu disimpan di gudang yang berada di sisi selatan stasiun.
Bangunannya kini sudah beralih fungsi menjadi Koperasi Simpan Pinjam (KSP).
Timbangan gerbong yang dulu digunakan untuk menentukan berat gerbong KA beserta isinya juga masih ada sampai sekarang.
Timbangan manual itu ditutup dalam bilik kecil di depan salah satu rumah warga.
Diketahui, timbangan itu terakhir ditera pada 2 September 1967.
Khusus untuk penumpang, Stasiun Dampit tergolong tempat yang ramai.
Juga menjadi tempat transit penumpang bus dari Lumajang.
”Dulu penumpang bus itu turun di tempat yang sekarang jadi Kantor Telkom Dampit.
Ada juga yang di dekat stasiun. Kemudian mereka (penumpang) akan berjalan ke sini,” ujar dia.
Dalam buku berjudul De Stoomtractie Op Java en Sumatra karya J.J.G Oegema tahun 1982, diketahui bahwa Stasiun Dampit mulai beroperasi pada 14 Januari 1899.
Pada waktu yang bersamaan juga dilakukan peresmian jalan Talok - Dampit sepanjang 7,5 km.
Pegiat Sejarah Kereta Api dari Komunitas Begandring Soerabaia Navy Pattiruhu menyebut, pada masa itu, jalur ke Dampit lebih sering dimanfaatkan untuk mengangkut komoditas kopi.
”Angkutan untuk kopi dibutuhkan karena banyak perkebunannya di lereng Semeru. Pada 1897 saja ada 57 ladang perkebunan kopi robusta yang bisa menghasilkan 150 ribu pikul (1 pikul: 60,5 kg) kopi,” terang dia.
damBaca Juga: Pekan Islami Hari Ke-4, Kecamatan Ampelgading, Tirtoyudo, Dampit dan Turen
Antara tahun 1915 sampai 1916, Malang Stoomtram Maatschappij (MS), perusahaan KA yang dulu mengoperasikan jalur di wilayah Malang Raya melakukan renovasi besar-besaran.
Mulai dari pembangunan rumah dinas pegawai di utara stasiun, hingga perpanjangan peron penumpang dan barang.
Terakhir pada 1922 dilakukan pembaruan gudang seluas 400 meter persegi di bagian selatan stasiun.
Gudang hasil bumi itu menggantikan posisi gudang yang ada di sebelah barat.
Stasiun Dampit selama operasionalnya sampai 1978 mengoperasikan KA Lokal dengan rute Malang Jagalan-Gondanglegi-Dampit.
Dalam buku Officieele Reisgids der Spoor en Tramwegen en Aansluitende Automobieldiensten op Java en Madoera terbitan N.V Sie Dhian Ho, Solo, 1926, disebutkan ada lima pemberangkatan KA pulangpergi jurusan Dampit-Malang.
Satu pemberangkatan paling akhir ke Gondanglegi.
Diketahui bahwa jalur trem uap Malang ke Dampit tidak langsung ke tujuan. KA harus melangsir atau mengubah posisi lokomotif setibanya di Gondanglegi.
Pemberangkatan ke Gondanglegi juga dimanfaatkan untuk memulangkan lokomotif ke depo.
Humas Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Surabaya Alfaviega Septian Pravangasta menyebut, sepanjang 60 tahun lebih operasionalnya, ada beberapa perubahan frekuensi perjalanan.
”Cukup sering penambahan dan pengurangan jadwal. Terakhir itu dua kali perjalanan dari Dampit, dari yang sebelumnya lima,” kata dia.
Saat itu, persaingan dengan moda transportasi bus juga sudah terjadi.
Apalagi, dengan dibangunnya jembatan Gladak Perak di perbatasan Malang-Lumajang.
Alfaviega bercerita, dulu pernah ada wacana menyambung rel dari Dampit ke Lumajang dengan Staatspoorwagen (perusahaan KA milik pemerintah kolonial Belanda).
Namun rencana itu tidak terwujud karena ongkos pembangunan yang tinggi.
Pada era 1920 dan 1930-an, MS memberlakukan peningkatan batas kecepatan.
Dari 20 kilometer per jam menjadi 40 kilometer per jam. Itu dilakukan menambah okupansi penumpang dan barang.
”Walau begitu sering terjadi anjlokan KA, karena peningkatan kecepatan tidak dibarengi dengan peningkatan sarana rel. Risikonya, mereka harus membayar utang konsesi ke pemerintah Belanda,” ujar dia. (*/by)
Editor : A. Nugroho