PUJON - Musim kemarau yang datang lebih cepat dikeluhkan petani sawi daging atau biasa disebut pakcoy.
Sebab, tanaman yang biasanya tumbuh subur dengan curah hujan cukup, kini membutuhkan pasokan air lebih banyak.
Itulah yang dialami Slamet, petani pakcoy asal Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon.
"Biasanya kemarau baru datang sekitar Mei atau Juni. Sekarang masih April sudah mulai panas. Jadi penyiraman harus dilakukan lebih sering," ujar Slamet di sela melakukan penyiraman kemarin (30/4).
"Kalau tidak disiram pagi dan sore, bisa habis semua," tambahnya.
Saat musim kemarau, beberapa hama juga lebih aktif menyerang tanaman.
Kondisi panas dan kering membuat ekosistem jadi lebih sesuai untuk perkembangan hama.
"Makanya beberapa daun berlubang, itu karena dimakan hama.
Tapi nanti kalau sudah diberi obat, daun lainnya bisa lebih baik," kata petani berusia 56 tahun itu.
Dia mengatakan, saat ini harga pakcoy relatif stabil, yakni Rp4.000 per kilogram.
Usia panen menyesuaikan permintaan konsumen.
Jika konsumen ingin daun yang lebih besar, akan tetap dilayani.
Namun biasanya panen bisa dilakukan jika pakcoy sudah berusia 45 hari atau 1,5 bulan.
Sementara, pakcoy yang saat ini sedang dirawat itu berusia 20 hari.
Sekitar dua pekan lagi siap panen.
Dengan perawatan yang ekstra, dia berharap hasil panen tidak mengalami penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Minimal, hasil panen bisa sama dengan periode lalu, yakni sekitar 3 kuintal.
Jumlah itu diperoleh dari lahan dengan luas sekitar 63 meter persegi.
Terdapat tujuh baris untuk penanaman pakcoy.
Setiap baris berukuran panjang 9 meter dan lebar 1 meter. (yun/dan)
Editor : A. Nugroho