Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Produksi UMKM Sepatu Kulit di Kepanjen Kabupaten Malang Merosot

Mahmudan • Jumat, 2 Mei 2025 | 17:34 WIB

Seorang pembeli memilih sepatu produksi lokal di Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen kemarin (1/5). Produksi sektor UMKM terus mengalami penurunan (Darmono/Radar Malang).
Seorang pembeli memilih sepatu produksi lokal di Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen kemarin (1/5). Produksi sektor UMKM terus mengalami penurunan (Darmono/Radar Malang).

KEPANJEN – Setelah pandemi Covid-19, banyak pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang mengalami penurunan produksi.

Penyebabnya adalah penjualan menurun, sehingga berdampak pada pengurangan tenaga kerja.

Itulah yang dirasakan Pitono, salah satu UMKM produksi kulit di Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen.

Baca Juga: 4 Strategi Otomatisasi Pesan Whatsapp untuk Tingkatkan Layanan UMKM

Sebelumnya menjual 30 pasang sepatu atau sandal per hari, merosot menjadi hanya 10 pasang per hari.

Berkurangnya jumlah produksi berpengaruh terhadap berkurangnya tenaga kerja.

Sebelumnya mempunyai 40 orang pekerja, sekarang tersisa 10 pegawai.

“Ramai-ramainya hanya pada 2017–2018. Setelah itu Covid-19, penjualan semakin menurun. Setelah Covid-19 itu sempat naik sedikit, sekarang kembali turun lagi,” ujar Pitono beberapa waktu lalu.

Menurutnya, terdapat beberapa hal yang menyebabkan penurunan penjualan.

Baca Juga: Menengok Kisah UMKM Bali Nature yang Go International setelah Mendapat Pemberdayaan BRI

Di antaranya sistem pasar yang berubah.

Sebelumnya, Pitono memasarkan produknya ke perusahaan.

Namun karena banyaknya persaingan, baik dengan produk dalam negeri maupun luar negeri, kini dia hanya bisa memasarkan melalui teman-temannya.

“Saya juga kurang memahami teknologi. Jadi sekarang masih kalah dengan barang-barang impor yang dijual online,” kata dia.

Meskipun mengalami penurunan penjualan, pihaknya tetap menjaga kualitas produknya.

Seperti selalu melakukan update desain sepatu dan sandal dan mempertahankan kualitas bahan baku yang digunakan, yakni kulit sapi asli.

Harganya pun terjangkau.

Untuk sandal dibanderol Rp 75 ribu sampai Rp 85 ribu.

Sedangkan sepatu sekitar Rp 120 ribu dan untuk sepatu safety sekitar Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu.

Baca Juga: Mamin UMKM di MOG Malang Laku Rp 25 Juta per Hari

“Produksi sepatunya memang lebih banyak untuk laki-laki daripada perempuan. Sedangkan untuk sandal, antara produksi untuk laki-laki dan perempuan masih berimbang,” imbuhnya.

Dia mengatakan, khusus peminat sepatu safety mulai meningkat.

Sebab, dia bekerja sama dengan sekolah-sekolah seperti SMK untuk memasarkan sepatu tersebut.

“Dulu target pasar kami perusahaan, tetapi sekarang banyak yang tutup. Jadi beralih ke sekolah. Pelan-pelan, saya mulai cari pasar baru,” pungkasnya. (yun/dan)

Editor : A. Nugroho
#UMKM #sepatu kulit #KEPANJEN #Pemberdayaan UMKM #ekonomi lokal #pasca covid-19 #Kabupaten Malang