PAKIS – Kesadaran masyarakat akan pentingnya literasi menunjukkan trend positif.
Hal itu terlihat dari keterlibatan kalangan non-pemerintah membuka perpustakaan untuk publik.
Itulah yang dilakukan oleh Perpustakaan Padepokan Sastra Tan Tular.
Perpustakaan di Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis itu menyediakan 7.000 eksemplar dengan 6.000-an judul buku.
Buku-buku tersebut didominasi tentang sastra, seperti novel Bumi Manusia karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer.
Juga ada buku tentang jurnalistik, kumpulan majalah, hingga karya ilmiah.
“Koleksi buku-buku di sini banyak yang terbitan lama. Paling lama, ada ensiklopedia Belanda yang dikeluarkan sekitar 1900an awal,” ujar Pustakawan Padepokan Sastra Tan Tular Nafa Dyas disela menata buku kemarin (11/5).
Ensiklopedia tersebut berjudul Winkler Prins’ Algemeene Encyclopaedie yang terdiri atas belasan seri.
Dalam ensiklopedia itu menjelaskan berbagai informasi, seperti konsep dan teori sains dan teknologi, serta kebudayaan dan seni.
“Buku tersebut hanya boleh diakses oleh anggota yang memiliki keanggotaan minimal enam bulan,” imbuhnya.
Itu merupakan salah satu keuntungan menjadi anggota perpustakaan.
Namun buku-buku lain tetap boleh dibaca oleh masyarakat umum, meskipun belum terdaftar sebagai anggota, asalkan membayar tiket harian Rp 5.000.
Sedangkan Pustakawan Padepokan Sastra Tan Tular Endah Gunawan menambahkan, semua buku boleh dibaca di tempat tersebut, namun dilarang membawa pulang.
“Karena jumlah judul bukunya terbatas. Selain itu, juga untuk menjaga buku-buku supaya tidak hilang,” ucapnya.
Sebagai informasi, buku di perpustakaan tersebut merupakan koleksi pribadi mendiang Prof Dr Henricus Supriyanto M Hum.
Dia merupakan pegiat kesenian sekaligus salah satu penggagas Dewan Kesenian Kabupaten Malang (DKKM).
Dia juga pernah menerima penghargaan Satyalancana Kebudayaan 2024 sebagai tokoh budayawan sekaligus pegiat dan pelestari kesenian ludruk.
Karena kiprahnya dalam bidang ludruk, dia juga mendapat julukan sebagai profesor ludruk. (yun/dan)
Editor : A. Nugroho