Dulu Jadi Jujukan Mahasiswa dari Berbagai Daerah.
Dedikasi Prof Dr Henricus Supriyanto MHum terhadap sastra dan seni pertunjukan cukup besar. Semasa hidupnya, sejak awal 2000-an, dia membuka perpustakaan sastra khusus mahasiswa dan peneliti. Pada akhir hayatnya, perpustakaan sastra dengan koleksi 7.000 judul buku itu dibuka untuk umum. Ribuan buku tertata rapi di ruangan berukuran 4 x 5 meter. Mulai dari buku fiksi seperti novel dan non-fiksi seperti ensiklopedia. Rata-rata, buku tersebut diterbitkan tahun 1900-an hingga 2000- an awal, baik oleh penerbit nasional maupun luar negeri. Contohnya novel berjudul Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer yang diterbitkan pada 1980. Dari ribuan buku tersebut, ada rak khusus yang menyimpan buku dengan tebal sekitar 5 sampai 7 sentimeter.
Buku itu merupakan ensiklopedia yang berjudul Winkler Prins’ Algemeene Encyclopaedie. Ada belasan seri yang tertata rapi di rak berwarna cokelat. Ensiklopedia itu menjelaskan berbagai informasi. Seperti konsep dan teori sains dan teknologi, serta kebudayaan dan seni. Ruangan tersebut yakni Perpustakaan Padepokan Sastra Tan Tular. Lokasinya di Jalan Raya Wendit Barat, Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis. Perpustakaan itu telah dibuka secara informal sejak mendiang Prof Dr Henricus Supriyanto MHum mulai mengumpulkan dan mengatur koleksi bukunyadi rumah pribadinya di Malang. ”Saya ingat, sejak saya masih kecil (tahun 1980-an), rumah kami di Jalan Simpang Bogor Malang penuh dengan buku-buku. Sebagian besar adalah buku-buku beliau,” ujar Anastasia Priastuti Brannan, putri pertama Henricus. Pada awal 1990-an, Henricus menambah satu ruangan khusus di bagian belakang rumah di Jalan Simpang Bogortersebut. Ruangan yang dipenuhi buku-buku koleksinya itu diplot khusus sebagai kantor.
Akhir 1990-an, koleksinya mulai dipindahkan ke rumah yang terletak di Jalan Raya Wendit. ”Awalnya diletakkan di lantai atas. Koleksi itu sudah dibuka secara terbatas bagi mahasiswa dan peneliti sejak awal 2000-an dengan nama Padepokan Sastra Tan Tular,” tambah Anastasia. Banyak mahasiswa dari berbagai universitas, termasuk universitas besar di luar Malang yang datang. Seperti mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang datang ke sana untuk mencari buku sebagai bahan riset. Mahasiswa dan peneliti itu juga mendapat kesempatan berdiskusi langsung dengan Henricus. Dia juga memberi kesempatan mereka untuk bermalam hingga mendapatkan materi yang cukup untuk riset. Profesor yang menekuni ludruk itu tidak segan untuk memberi bimbingan tentang teknik penulisan. Supaya tulisan mereka betul-betul mudah dipahami dan semua data yang diperoleh dapat tersampaikan dengan gamblang. ”Mereka yang berhasil menyelesaikan skripsi, tesis, dan disertasi melalui riset di perpustakaan ini biasanya menyerahkansalinan karya sebagai bentuk kontribusi,” ucapnya.
Ada lebih dari 50 karya tulis ilmiah yang tertat rapi di perpustakaan tersebut. Seperti tesis yang berjudul Legenda Suku Dayak Ngaju di Sepanjang Sungai Kahayan Kota P alangkaraya Kalimantan Tengah (Kajian Struktur, Makna, dan Fungsi). Selain itu, Henricus gemar membuat kliping tentang berbagai hal. Kliping itu sudah dimulai sekitar 1970-an hingga awal 2023. Karya-karya Henricus juga tersimpan rapi di perpustakaan itu. Seperti buku berjudul Tumapel: Cikal Bakal Majapahit (Edisi Revisi). Setelah wafat pada April 2023, keluarga dibantu dua pustakawan muda mengelola perpustakaan dengan menyusun ulang katalog, merawat koleksi, dan membuka akses public yang lebih luas. Tahun lalu, perpustakaan itu mulai dibuka untuk umum. Siapa saja bisa bebas membaca buku di sana. Asalkan membayar tiket harian Rp 5.000 bagi yang belum mendaftar keanggotaan. Terdapat sekitar 7.000 eksemplar buku dengan kurang lebih6.000 judul. Mulai dari buku karya sastra, referensi ilmiah, kliping, hingga majalah tersedia di sana.
”Profesor Henricus sangat mencintai buku dan memiliki semangat yang tinggi untuk berbagi ilmu, terutama dengan generasi yang lebih muda. Beliau sering menyampaikan, mereka menganggap saya gila karena tidak memiliki mobil. Saya menggunakan uang saya untuk membeli buku-buku,’” kata Anastasia menirukan ucapan ayahnya. Dari perspektif keluarga, Henricus adalah sosok pekerja keras, berdedikasi tinggi, dan keras kepala. Bisa dibilang, dia termasuk workaholic. Sejak Anastasia masih kecil, keseharian Henricus yakni berangkat dari rumah di Simpang Bogor saat subuh ke Surabaya untuk mengajar di IKIP Surabaya (sekarang Unesa) dengan angkutan umum. Sorenya dia kembali ke rumah, mandi, makan malam, pergi lagi untuk kegiatannya sebagai wartawan atau ludruk atau kegiatan kebudayaan lain. ”Beliau pulang ke rumah saat kami sudah tidur. Namun beliau selalu tampak bahagia dengan kegiatan beliau,” pungkasnya
Editor : A. Nugroho