Nonaktif Mulai Tahun 1971, Kini Jadi Warung Soto
Bagi banyak orang halte trem yang berada di Desa Krebet, Kecamatan Bululawang, akan terdengar asing. Selain lama tidak beroperasi, juga karena perubahan fungsi. Tapi saat ditelusuri lebih jauh, tempat itu punya sejarah panjang.
Letak Halte Trem Krebet berada di tepi Jalan Raya Malang-Gondanglegi. Atau lebih tepatnya di sisi timur Jalan Raya Krebet, Kecamatan Bululawang. Posisinya di samping kiri gerbang masuk Pabrik Gula (PG) Krebet Baru.
Dalam pengamatan wartawan koran ini kemarin (19/6), bangunan berukuran sekitar 3x5 meter persegi itu sudah berubah bentuk. Menjadi tempat berjualan Soto Goceng atau Rp 5000.
Bekas halte trem tersebut berada di belakang warung soto. Hanya tersisa atap dan struktur bangunannya yang sederhana, berbahan kayu berwarna hijau. Sedangkan bekas perhentian kereta menyisakan atap stasiun model lama.
Seperti salah satu contohnya ada di Stasiun Blimbing, Kota Malang. Struktur itu mencirikan bangun milik Malang Stoomtram Maatschappij (MS). Sebagai informasi, MS merupakan perusahaan trem uap Malang.
Sementara untuk bekas jalur Kereta Api (KA) sudah tertimbun tanah. Berdasar dokumen Grafik Perjalanan KA (Gapeka) tahun 1965, menunjukkan bangunan sisa halte itu berada di tengah dua jalur.
Pola stasiun atau pemberhentian KA yang biasa disebut Stasiun Pulau. Di jalur ke dua atau sebelah timur, ada tiga jalur buntu yang mengarah masuk ke dalam area PG Krebet.
Salah satu security PG Krebet Baru Ahmadi yang ditemui di lokasi membenarkan bahwa warung soto depan pabrik gula itu bekas halte trem. ”Bangunannya milik PT Kereta Api Indonesia (KAI), sampai tempat parkir. Yang di sampingnya itu juga tanahnya Kereta Api,” kata dia.
Pria yang sudah bekerja 15 tahun sebagai security di pabrik gula itu juga menunjukkan, ada bekas wesel atau rel pengalih perjalanan KA sekitar 700 meter ke selatan dari halte. Weselnya berupa bandul atau yang dioperasikan tanpa kabel jarak jauh. Sayang, sisa fasilitas halte lain sudah tertimbun tanah bersama dengan semua jalur kereta api.
Dari ceritanya, wartawan koran ini mendapatkan informasi terkait jalur kereta api di sana. Salah satunya untuk angkutan trem dari Gondanglegi menuju Kota Malang.
Berdasar informasi yang digali koran ini dari sejumlah sumber, halte krebet mulai beroperasi pada 4 Februari 1898. Bersamaan dengan pengoperasian penuh jalur Bululawang-Gondanglegi oleh Malang Stoomtram Maatschappij.
Berdasar buku Officiele Reisgids der Spoor en Tramwegen en Aansluitende Automobiel diensten op Java en Madoera terbitan N.V Sie Dhian Ho, Solo, 1926, ada 8 perjalanan trem dari Malang Jagalan (Kota Malang) dan ke Gondanglegi. Mengawali pemberangkatan dan kedatangan pertama pukul 05.30 WIB, dan mengakhirinya pada pukul 17.41 WIB.
Humas Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Surabaya Alfaviega Septian Pravangasta menyampaikan, keberadaan Halte Krebet tidak lepas untuk transportasi produk olahan tebu menuju ke pelabuhan. Di Kecamatan Bululawang sendiri pada masa penjajahan Belanda memiliki Pabrik Gula Krebet dan Sempalwadak.
Masing-masing terpisah jarak sekitar 4 kilometer. Keduanya sama-sama terhubung jalur trem Malang-Gondanglegi. ”Sementara di Bululawang itu sudah ada stasiun Bululawang yang besar, ada 2 halte di dekat PG itu tidak lain untuk keperluan pengangkutan,” terang dia.
Berdasar layout halte tersebut, tiga jalur buntu yang ada di dalam area pabrik jadi satu tanda PG Krebet menggunakan jasa trem. Khususnya untuk melakukan pengangkutan gula. Sistemnya menggabungkan gerbong barang dengan kereta penumpang.
Sedangkan, dalam sebuah foto tahun 1948 dari Koninklijk Instituut voor Taal-Land-en Volkenkunde (KITLV), Leiden, Belanda, menunjukkan bahwa ada satu gerbong barang terparkir di emplasemen halte trem. Pada waktu itu, sedang terjadi Agresi Militer ke-II oleh militer Belanda.
”Kalau tebu jelas pakai lori, dan jalurnya beda. Kalau yang pakai trem ini semacam gula yang sudah jadi dan sudah dilakukan packing,” kata dia. Sumber lain menyebut bahwa pada era kolonial juga beroperasi angkutan tetes tebu menggunakan gerbong tangki. Tapi, selepas masa kemerdekaan 1945, layanan trem itu sudah tidak ada. Hanya tersisa angkutan gula sampai akhir operasional halte tahun 1971. (*/gp)
Editor : A. Nugroho