Rawan Banjir! Makin Dangkal, Dua Sungai di Malang Ini Belum Dilakukan Normalisasi
A. Nugroho• Minggu, 13 Juli 2025 | 03:02 WIB
PENDANGKALAN: Satu unit alat berat diterjunkan untuk mengeruk material pasir dan batu di sungai Desa Pujiharjo, Kecamatan Tirtoyudo kemarin.
MALANG – Salah satu cara untuk mengantisipasi banjir adalah menormalisasi sungai yang dangkal. Namun belum semua sungai yang mengalami pendangkalan di Bumi Kanjuruhan dilakukan normalisasi atau pengerukan.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang mengungkap, ada empat sungai yang harus dilakukan normalisasi. Namun ada dua sungai yang belum dilakukan normalisasi, yakni Sungai Glidik di Desa Lebakharjo, Kecamatan Ampelgading dan Sungai Panguluran yang mengalir melintasi Desa Sitiarjo dan Kedungbanteng, Kecamatan Sumbermanjing Wetan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (KL) BPBD Kabupaten Malang Sadono Irawan mengatakan, kondisi 2 sungai itu sangat dangkal dan rawan terjadi banjir. “Khusus glidik itu merupakan aliran lahar dingin Gunung Semeru. Jadi banyak material gunung yang terbawa sampai ke bawah,” kata dia. Sedangkan dua sungai lain sedang proses normalisasi. Keduanya di Tirtoyudo, yakni sungai di Desa Pujiharjo dan Desa Purwodadi. “Pekerjaan normalisasi sudah berlangsung sejak 3 hari lalu (Selasa, 8/7),” ujar Camat Tirtoyudo Joanico Da Costa kemarin.
Satu unit ekskavator telah diterjunkan untuk mengangkut material sungai yang menyebabkan banjir pada 22 Mei dan 13 Juni lalu. Pekerja mengeruk setidaknya 2-2,5 meter material berupa pasir dan batu. Kedalaman pengerukan menyesuaikan pada perbedaan topografi sungai di lokasi.
Kemarin (11/7), pekerja telah berhasil mengeruk sepanjang 1 kilometer. Rencananya, 2 sungai di Tirtoyudo akan dikeruk dengan panjang yang berbeda. Sungai Sat bakal dikeruk sepanjang 1 kilometer, sedangkan di Tundo butuh 2 kilometer. Akan tetapi lama pekerjaan normalisasi belum bisa dipastikan. “Karena ekskavator hanya satu, jadi setelah selesai di Purwodadi bisa beralih ke Pujiharjo,” ujar mantan Camat Kromengan tersebut.
Seperti diberitakan, 2 sungai tersebut dikeruk karena bencana banjir pada 22 Mei dan 13 Juni lalu. Bencana alam tersebut mengakibatkan 156 rumah tergenang, tanggul sungai dan jembatan rusak.(biy/dan)