Enam Desa di Malang Berpotensi Terbebas dari Ancaman Kekeringan
A. Nugroho• Minggu, 20 Juli 2025 | 19:04 WIB
ALOMANI CUACA: BPBD Kabupaten Malang mencatat tahun lalu ada 17 desa kekeringan, tahun ini diperkirakan menyusut menjadi 11 desa
KEPANJEN – Anomali cuaca melanda Bumi Kanjuruhan. Indikasinya, beberapa kali turun hujan, meski sudah memasuki musim kemarau. Diperkirakan kondisi tersebut akan berlangsung hingga bulan depan. Di sisi lain, belasan desa yang langganan krisis air bersih setiap musim kemarau, kini bakal mendapat berkah. Setidaknya terhindar dari ancaman kekeringan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang Sadono Irawan memaparkan, anomali cuaca diprediksi akan terjadi hingga Agustus depan. Namun pihaknya bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akan terus memantau perubahan cuaca.
“Biasanya kekeringan terjadi sekitar Agustus, September, dan Oktober. Namun tahun ini akan kemarau basah. Jadi potensi kekeringan rendah,” ujar Sadono ditemui beberapa waktu lalu. Kemarau basah adalah musim kemarau yang biasanya terjadi hujan hanya satu kali dalam 30 hari, maka saat kemarau basah, intensitas hujan lebih tinggi.
Dalam kondisi kemarau basah, dia melanjutkan, titik kekeringan juga diprediksi berkurang. Tahun lalu, kekeringan melanda 17 desa. Sedangkan tahun ini berpotensi di 11 desa. Yakni Desa Kalipare, Putukrejo, Arjowilangun, Sumberoto, Mentaraman, Sumberbening, Tumpakrejo, Kedungbanteng, Sitiarjo, Sumberagung, dan Sumberejo. "Daerah-daerah tersebut masih ada hujan, jadi belum ada kekeringan,” ucap pejabat eselon III B Pemkab Malang itu.
Desa-desa tersebut akan menerima dropping air dari pemerintah. Sedangkan, beberapa desa lain yang sebelumnya menerima dropping air, seperti Harjokuncaran, tahun ini sudah tidak berpotensi kekeringan. Sebab, desa tersebut saat ini sudah terdapat perpipaan dari Perumda Tirta Kanjuruhan. Desa lainnya seperti Sumbul juga mendapat bantuan perpipaan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim.
Dia juga menyebut, pada 2020, 2021, dan 2022 tidak ada kekeringan. Baru pada 2023 dan 2024 mulai ada kekeringan. Sebab, pada tahun tersebut terjadi fenomena el nino. Biasanya, setelan el nino akan terjadi la nina. Siklus el nino dan la nina pun tidak setiap tahun. Setelah el nino, la nina akan berlangsung Selama 2-3 tahun.
Seperti yang diketahui, el nino yakni fenomena ketika suhu permukaan laut di Samudera Pasifik meningkat di atas kondisi normal. Sehingga el nino menyebabkan kekeringan. Sebaliknya, la nina terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudera Pasifik menurun di bawah kondisi normal. Sehingga, pertumbuhan awan berkurang dan curah hujan meningkat.(yun/dan).