Menelusuri Jejak Jalur KA Lama dari Sumberpucung ke Kabupaten Blitar.
Tidak semua jalur Kereta Api (KA) di Pulau Jawa berasal peninggalan zaman Belanda. Ada juga yang dibangun pada masa orde baru untuk menggantikan jalur lama. Salah satunya yang ada di antara Stasiun Sumberpucung sampai Pogajih (Kabupaten Blitar). Jejak jalur yang lama masih terlihat.
SISA rel lama peninggalan zaman Belanda itu bakal terlihat bila berjalan dari sisi timur atau lewat terowongan. Bisa juga lewat pos Jalur Perlintasan Langsung (JPL) 123 atau perlintasan KA Lahor, di Desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung. Jawa Pos Radar Malang memilih opsi jalur yang kedua itu, kemarin (22/7).
Jarak yang harus ditempuh sekitar satu kilometer. Sepanjang perjalanan, terlihat sisa-sisa tanda adanya jalur KA di samping rel. Tepatnya berada di sebelah selatan. Sedikitnya ada tujuh tonggak beton lama yang berjejer membentuk semacam jembatan kecil.
Semuanya tersusun rapi sepanjang 10 meter. Ketika sampai mulut terowongan, bangunan fondasi jembatan benar-benar terlihat. Jaraknya sekitar delapan meter di sebelah selatan terowongan yang dulu dikenal sebagai terowongan Eka Bakti Karya. Tepatnya di area perkebunan tebu yang pada saat disinggahi sudah melewati masa panen.
Bangunan bekas jembatan dengan empat pilar beton berwarna abu-abu tersebut memiliki tinggi sekitar dua meter dari permukaan tanah, dan lebar sekitar lima meter. Karena letaknya yang terpencil, jarang ada warga yang berada di sana.
Kemarin ada petugas perbaikan kabel komunikasi kereta api (KA) yang tengah beristirahat. Yaitu Laman, Minto, dan Bibin. Semuanya berasal dari Kecamatan Wajak. ”Itu memang bekas rel lama, kalau diteruskan ke arah timur itu ada di dalam bendungan,” kata Laman. Walau dia berasal dari Wajak, pria kelahiran tahun 1980 itu sempat mendengar banyak cerita soal pengalihan jalur KA milik Belanda itu dan kaitannya dengan pembangunan Bendungan Karangkates pada masa orde baru.
Dia juga sempat tinggal di wilayah Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar yang bertetangga langsung dengan Desa Karangkates. Diketahui bahwa pembangunan Bendungan Karangkates dimulai pada 1962. Namun, sempat mangkrak karena ada peristiwa G30S/PKI dan pergantian kepemimpinan negara.
Baru pada 1968, proyek bisa dibangun lagi dengan bantuan pendanaan dari Jepang. Laman menyebut, mayoritas pekerja di proyek tersebut berasal dari Selorejo, Blitar. Berikut juga batu-batu bahan baku bangunan yang dipakai dalam proyek tersebut.
Dulu, pembangunan bendungan dan terowongan dikerjakan hampir bersamaan. ”Akhirnya rel lama banyak yang dibongkar dekat sini, banyak juga yang tenggelam di bawah bendungan,” ujar dia. Sisa rel yang ditenggelamkan akan terlihat kalau debit air bendungan menyusut pada musim kemarau.
Salah satu pecinta Kereta Api (KA) Haryo Prasodjo mengatakan bahwa jalur lama tersebut dibangun oleh perusahaan KA Belanda Staats Spoorwagen (SS). Pembuatan jalur KA tersebut merupakan salah satu sektor proyek dalam pembangunan Jalur KA antara Bangil (Kabupaten Pasuruan) - Malang - Blitar. ”Antara tahun 1896 sampai 1897 dibangunnya. Jalur itu merupakan trase kedua antara Kepanjen sampai Blitar,” kata dia.
Menurut dokumen ’Uraian Singkat Mengenai Projek Bendungan Serbaguna Karangkates’ tahun 1972 dari Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik Dirjen Pengairan Kementerian Pekerjaan Umum (PU), diketahui bahwa pada 1967, pekerjaan relokasi rel KA sepanjang 2,7 kilometer itu dimulai.
Bersamaan dengan pembangunan terowongan, dibangun juga jalur baru dari posisi awal ke arah utara sepanjang 3,9 kilometer. Menembus perbukitan Karangkates. Pada 1 April 1970, pekerjaan selesai dan KA lintas Malang-Blitar bisa melintas.
Pada jalur yang sekarang, KA seakan dibuat berkelok dan melewati naik turun elevasi tanah. Tapi, pada jalur lama yang melintasi bendungan, tanahnya cenderung datar. Nyaris tidak ada potensi bencana kalau dibandingkan dengan sekarang.
Pria yang juga berprofesi sebagai Dosen di Program Studi (Prodi) Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu menyebut bahwa pergeseran jalur KA tersebut malah mengalihkan dari yang sebelumnya aman, menjadi rawan bencana. ”Rawan longsor kalau hujan. Pada saat awal-awal setelah dibangun memang aman. Namun, karena makin banyak bangunan di atas terowongan, itu membuat adanya perubahan di struktur tanah,” ujar Haryo. (*/by)
Editor : A. Nugroho