Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Desa Gondowangi Wagir Konsisten Nguri Nguri Budaya

A. Nugroho • Minggu, 27 Juli 2025 | 20:53 WIB
TAHUN KEDELAPAN: Arca Tatasawara tampil di Dilem Festival pada Jumat malam (25/7). Event tahunan di Desa Gondowangi, Kecamatan Wagir itu ditutup dengan pagelaran wayang kulit, tadi malam
TAHUN KEDELAPAN: Arca Tatasawara tampil di Dilem Festival pada Jumat malam (25/7). Event tahunan di Desa Gondowangi, Kecamatan Wagir itu ditutup dengan pagelaran wayang kulit, tadi malam

KABUPATEN - Dilem Festival yang rutin digelar di Desa Gondowangi, Kecamatan Wagir selalu mengedepankan tema kebudayaan dan toleransi antarumat beragama. Tahun ini adalah tahun kedelapan festival itu digelar. Mereka tetap konsisten mewakili kebudayaan dari tiga agama yang dianut warganya.

 

Prinsip itu diterapkan dengan menyelenggarakan doa bersama masing-masing agama selama tiga hari berturut-turut. Acara Dilem Festival 2025 kali ini mengambil tema ”Sewindu”. Itu merupakan simbol komitmen warga Desa Gondowangi yang konsisten dalam berkarya, menjaga tradisi, dan mengedepankan toleransi dalam delapan tahun terakhir.

 

Acara dibuka dengan pengajian dan tahlil akbar pada 20 Juli lalu. Keesokan harinya, disambung doa bersama umat Hindu. Pada hari ketiga, ada doa bersama jemaat Nasrani. ”Sudah seminggu berlalu, hari ini (kemarin) kami tutup dengan penampilan Niken Salindry,” ujar Kades Gondowangi Danis Setiabudi Nugroho.

 

Dalam penutupannya, Niken mendampingi pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Tantut Sutanto. Selama acara, Dilem Festival juga banyak menampilkan beragam hiburan. Seperti penampilan tari tradisional, mereka menggandeng lima sanggar tari asli Desa Gondowangi.

 

Yaitu sanggar Sekar Dilem, Sanggar Askara Tisna, Sanggar Sekar Arum, Sanggar Padma Gayatri, dan Sanggar Sekar Madu. Mereka sukses berkolaborasi untuk gebyar seni parade tari tradisional pada hari kedua, 21 Juli lalu. Menampilkan Tari Topeng Malangan hingga Tari Beskalan. ”Hari ketiga kami isi dengan jaranan Satrio Cempoko Sari, dengan guest star Mifta Kicun dan Sovitri Marsella,” lanjut Danis.

 

Acara inti ada pada hari kelima yang diisi barikan bersih desa. Warga menyiapkan ratusan tumpeng dan berdoa bersama untuk para leluhur bersama tetua desa. Ditutup dengan perenungan alam bersama musik dari Arca Tatasawara. ”Dengan adanya festival ini, warga bisa saling menghormati dan bersinergi untuk nguri-nguri kebudayaan asli desa kami,” pungkas Danis. (aff/by)

Editor : A. Nugroho
#Festival #Wagir #malang