WAGIR – Nasib Cinta (nama samaran) sungguh malang. Di usia yang masih belia, 4 tahun, dia dicabuli HE, pemuda asal Wagir. Kasus asusila tersebut diungkap oleh Lidya, salah seorang guru korban di Kelompok Bermain (KB).
Lidya mengungkap, peristiwa terjadi saat korban tinggal di rumah neneknya, 21 Juli lalu. “Jadi dulu itu sempat tinggal di rumah neneknya. Terlapor ini anak tetangga neneknya yang kebetulan akrab dan Cinta sering main ke rumah dia (pelaku,” kata Lidya
Tindakan asusila terungkap saat Cinta mengeluhkan sakit di bagian alat vitalnya. Ketika ditanya, korban menyebut bahwa HE pernah mengisolasi kemaluannya. Setelah dibawa ke puskesmas, bidan menyebut bahwa Cinta telah menjadi korban kekerasan seksual. “Alat vitalnya sudah berubah. (melebar dari ukuran normal anak seusianya),” ungkap dia.
Informasi yang diketahui Lidya, modus HE melakukan pencabulan adalah dengan mengiming-imingi korban untuk bermain ponsel. Tertarik, korban pun dibawa ke dalam kamar dan di sana lah terjadi pencabulan.
Pihaknya menduga bahwa tindakan HE lebih dari sekadar mencabuli. “Keterangan si Cinta, pernah juga tangan dan kakinya diisolasi, celananya dilepas lalu pelaku mengeluarkan alat vital,” katanya.
Pada 22 Juli lalu Lidya bersama ibu korban berinisial FA, 24, melaporkan kejadian itu ke Polres Malang. “Sekarang tinggal menunggu hasil visum et repertum dari rumah sakit. Dari laporan sampai sekarang (kemarin, 28/7) belum juga keluar,” ujar dia.
Kanit PPA Satreskrim Polres Malang Aiptu Erlehana membenarkan bahwa adanya laporan dugaan pencabulan tersebut. Pihaknya mendapatkan laporan tersebut dari SPKT pada 24 Juli lalu. Berdasar kronologi yang dipaparkan dalam laporan, dia menduga bahwa pencabulan telah terjadi sejak waktu yang cukup lama. “Kecurigaan ibunya sudah sejak 2024. Waktu itu korban mengeluh sakit di kemaluannya, tapi mungkin ibunya kala itu tidak menyadari dampak atau akibat yang dialami si anak karena masih berusia 4 tahun,” kata dia.(biy/dan)
Editor : A. Nugroho