Berfungsi untuk Menyuplai Bahan Bakar Pesawat TNI AU
Dulu ada jalur kereta api (KA) khusus yang mengarah ke Lanud Abdulrachman Saleh. Berfungsi sebagai pengangkut avtur atau bahan bakar pesawat. Operasional jalur cabang dari Blimbing ke Tumpang itu hanya berlangsung 50 tahun, sebelum ditutup pada 1980.
Pembangunan Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh baru dimulai pada 1937. Sebelum berada di sana, operasionalnya berada di sekitar Kelurahan Sawojajar, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Kaur Penpas Lanud Abdulrachman Saleh Kapten Bambang Supriyatno mengisahkan, awal-awal dulu namanya masih Lanud Bugis.
Pembangunannya diinisiasi pemerintah Kolonial Belanda antara tahun 1937 sampai 1940. Untuk mendukung operasionalnya, Malang Stoomtram Maatschappij (MS) selaku operator jalur Kereta Api (KA) Blimbing-Tumpang membuat jalur percabangan yang masuk ke dalam area Lanud.
”Tahun 1940 baru jadi jalurnya. Dulu untuk keperluan avtur pesawat dan logistik,” imbuh Bambang. Persenjataan tentara dulu juga sempat diangkut menggunakan KA. Suplai avtur atau bahan bakar khusus pesawat itu dibawa dari Depo BBM di Jagalan (Sukun, Kota Malang) yang dekat dengan Stasiun Trem Malang Jagalan. Jalur di sana juga terhubung dengan Stasiun Blimbing.
Rel KA tersebut membentang sepanjang lima kilometer dari percabangan di tepi Jalan Raya Desa Bugis ke utara. Mengikuti sisi kiri jalan masuk dari depan gerbang patung pesawat, dan mengakhiri perjalanan di tempat penyimpanan bahan bakar dan logistik di dekat Skadron 32. Tempat penyimpanan itu masih ada sampai sekarang.
Pada 1942, Jepang masuk ke Indonesia dan mengusir Belanda. Lanud itu pun berubah fungsi menjadi markas tentara angkatan darat Jepang. Angkutan bahan bakar masih terus beroperasi. Setelah masa kemerdekaan, tepatnya pada 1950, KA yang melewati jalur tersebut tidak lagi membawa logistik tentara. Melainkan hanya bahan bakar khusus pesawat saja.
Biasanya, percabangan jalur akan diawali dari sebuah halte atau stasiun terdekat. Jalur masuk Lanud Abdulrachman Saleh juga berdekatan dengan Halte Bugis yang letaknya juga di tepi jalan. Menurut penghobi sejarah KA Endiarto Wijaya, Halte Bugis tidak melayani persimpangan menuju kawasan tentara AU itu.
”Wesel (pembelok)-nya mandiri dan dioperasikan manual oleh kru KA yang bertugas,” kata dia. Artinya, ketika KA pengangkut avtur itu hendak masuk ke dalam Lanud, lebih dahulu harus berhenti di dekat wesel. Kemudian kru KA akan mengganti posisi bandul wesel dari yang awalnya lurus ke arah Pakis dan Tumpang menjadi belok ke Lanud Abdulrachman Saleh.
Jalur KA dari Blimbing ke Tumpang itu menutup operasionalnya pada 1968. Penutupan itu, menurut pria lulusan Magister Sosiologi University of Sydney, Australia itu tidak memengaruhi operasional logistik avtur ke dalam Lanud. ”Pada 1968 itu berhenti operasional lintas Pakis ke Tumpang karena ada banjir di timur Stasiun Pakis yang merusak trasenya. Jalur Blimbing-Abdurachman Saleh masih jalan terus,” imbuh Endiarto. Sungai yang dimaksud adalah Sungai Cokro.
Jalur KA ke arah Malang timur di Blimbing dahulu dilayani dua stasiun yang bersebelahan. Namun, pada 1970-an, Stasiun Blimbing MS ditutup dan operasionalnya dijadikan satu ke Stasiun Blimbing peninggalan Staatsspoorwegen (SS) yang sampai sekarang masih beroperasi. ”Tahun 1989 sampai 1990, KA angkutan avtur diberangkatkan dari jalur 1 Stasiun Blimbing sekarang. Dulu lokomotif pakai lokomotif uap seri C11 dan membawa antara dua sampai tiga gerbong seri GR (gerbong barang tertutup dengan 2 gandar roda),” papar warga Jalan LA Sucipto, Moh. Aliwafa.
Ya, pola operasional pengangkutan bahan bakar itu tidak sama dengan operasional BBM lain yang menggunakan gerbong ketel atau tangki. Melainkan hanya pakai gerbong barang berpenutup dan avturnya dimasukkan dalam drum-drum. Dalam satu hari, perjalanan pengiriman KA hanya sekali saja.
Berangkat pagi atau siang dari Blimbing, dan kembali lagi dari Lanud pada sore atau petang hari. KA itu juga berjalan lambat karena masih ditarik lokomotif uap yang kian menua. Sekarang, yang tersisa dari jalur angkutan khusus avtur itu hanya berupa sisa rel di sisi kiri atau barat jalan masuk ke Bandara Abdulrachman Saleh.
Kondisinya juga tidak 100 persen utuh. Sebagian dicopot, sebagian lagi mencuat di trotoar. Banyak yang sudah tertimbun tanah. Ujung jalur atau badug di area skadron 32 juga sudah tidak bersisa. (*/by)
Editor : A. Nugroho